Kaya Akan Budaya, Bulukumba Dipilih Jadi Lokasi Jetrada ke-9

Kemendikbud melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar Jejak Tradisi Daerah (Jetrada), di Kabupaten Bulukumba.

Kaya Akan Budaya, Bulukumba Dipilih Jadi Lokasi Jetrada ke-9
Firki Arisandi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar Jejak Tradisi Daerah alias Jetrada, di Kabupaten Bulukumba. 

TRIBUNPALU.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar Jejak Tradisi Daerah (Jetrada), di Kabupaten Bulukumba.

Jejak Tradisi Daerah alias Jetrada ke-9 ini berlangsung mulai Senin-Kamis (25-28/3/2019), di beberapa titik lokasi di Bulukumba, salah satunya di Ballroom Hotel Agri, Jl R Suprapto, Kecamatan Ujung Bulu.

Jetrada tak hanya dihadiri para pelajar lokal Bulukumba saja, beberapa sekolah di Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), juga mengirimkan perwakilannya dalam kegiatan ini.

Panitia Jetrada, Abdul Hafid, mengatakan, bukan tanpa alasan Bulukumba menjadi lokasi Jertrada ke-9 tahun ini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar Jejak Tradisi Daerah alias Jetrada, di Kabupaten Bulukumba.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (Sulsel), menggelar Jejak Tradisi Daerah alias Jetrada, di Kabupaten Bulukumba. (Firki Arisandi)

Kabupaten yang berada di jazirah selatan Sulawesi Selatan itu, dinilai memiliki warisan budaya yang melimpah dengan tampilan kharisma tradisonalnya.

Sebut saja, kata dia, komunitas Adat Kajang. Balla To Kajang ini telah ditetapkan sebagai warisan Budaya Nasional tahun 2017.

"Yang diharapkan kepada para siswa-siswa, kegiatan ini akan dapat mengenalkan dan membangun ketahanan kebangsaan dengan mengenal kembali tradisi-tradisi yang ada pada daerah ini," jelasnya.

Dengan kegiatan ini, lanjut dia, juga mengenalkan kepada siswa bahwa sebuah tradisi dapat hidup dan menghidupi masyarakat.

Juga belajar tentang bagaimana mengubah paradigma lama, bahwa tradisi bukanlah suatu aktivitas yang hanya dilakoni orang kolot semata.

Lebih dari itu, kata dia, tradisi terbentuk dari sebuah metode kontemplasi yang mendalam.

Halaman
12
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved