Dicabut atau Tidak Dicabut? Ketahui Serba-serbi tentang Gigi Bungsu
Gigi bungsu merupakan gigi geraham ketiga yang tumbuh paling akhir. Sebagian besar orang mengalami masalah tentang gigi bungsu yang harus dicabut.
TRIBUNPALU.COM - Gigi bungsu merupakan gigi geraham ketiga yang tumbuh paling akhir.
Namun, sebagian besar orang mengalami masalah tentang gigi bungsu yang harus dicabut.
Timbullah pertanyaan, apa yang menyebabkan manusia memiliki gigi bungsu yang notabene baru tumbuh ketika dewasa?
Lalu apa alasan gigi bungsu harus dicabut?
Manusia adalah primata, dengan kerabat terdekat spesies kita adalah kera Afrika, khususnya simpanse.
Kera juga punya gigi bungsu, begitu juga monyet.
Sehingga, memiliki gigi bungsu merupakan bagian dari warisan evolusi manusia.
Evolusi gigi bungsu
Sama seperti gigi lainnya, gigi bungsu tumbuh dari tulang rahang.
Namun, gigi bungsu tumbuh paling akhir jika dibandingkan dengan gigi lain.
Gigi geraham kedua mulai tumbuh saat berumur tiga tahun.
Gigi bungsu seringkali belum tumbuh sampai umur sembilan tahun, tapi hal ini sangat bervariasi, mulai paling awal pada umur lima tahun dan paling akhir umur 15.
Gigi bungsu akan mulai muncul keluar dari gusi antara umur 17 sampai 24 tahun, atau bahkan pada usia lebih tua dari itu.
Gigi yang muncul secara tidak benar dan masuk ke mulut akan mengalami satu hal yang disebut 'impaksi'.
Gigi yang mengalami 'impaksi' dapat berbuntut pada masalah-masalah seperti penyakit gusi, kista, atau kerusakan pada gigi geraham kedua.
Bahkan ketika gigi bungsu tumbuh secara miring, mereka dapat berputar dan berpindah pada umur 20-an atau 30-an.
Gigi bungsu bukan hanya gigi yang paling sering mengalami impaksi, tapi juga gigi yang paling sering gagal tumbuh.
Karena gigi bungsu tidak begitu penting bagi pertahanan hidup, timbullah pertanyaan penting; apakah evolusi dapat meninggalkan hal mengganggu ini?
Sayangnya, tidak.
Pertama, gigi bungsu yang mengalami impaksi mungkin menyebabkan masalah, tapi jarang sekali sampai membunuh atau menyebabkan seseorang meninggal dunia.
Bahkan jika gigi bungsu pada zaman dahulu menyebabkan kematian, evolusi akan membuang gigi bungsu dengan cara memisahkan manusia dari kumpulan gen sebelum memiliki anak.
Pemisahan ini dapat menghentikan kita mewariskan gen yang mungkin mengalami impaksi gigi bungsu.
Namun, tidak mungkin ada 'gen impaksi' yang lebih spesifik di awal.
Yang ada adalah beberapa faktor risiko penyebab impaksi, termasuk makanan yang dikonsumsi.
Ruang sempit
Alasan utama seseorang mengalami impaksi gigi bungsu adalah sempitnya ruang yang ada di bagian belakang tulang rahang.
Tim peneliti menemukan ketika gigi bungsu tumbuh dan muncul sangat terlambat, kebanyakan ruang ini sudah dipenuhi dengan gigi geraham pertama dan kedua hingga gigi bungsu tidak dapat muncul ke atas lewat gusi.
Masalah lainnya yang terkait adalah pertumbuhan rahang dan panjang keseluruhannya.
Jika rahang tidak tumbuh cukup panjang dan cukup cepat, gigi bungsu yang nanti tumbuh juga akan kekurangan tempat untuk muncul secara penuh atau bahkan tidak muncul sama sekali.
Namun, tidak semuanya disebabkan oleh sedikitnya ruang.
Ilmuwan masih belum bisa menjelaskan mengapa beberapa gigi bungsu bisa mengalami impaksi.
Sehingga, manusia memerlukan cara baru agar dokter gigi dapat memprediksi gigi bungsu mana yang berisiko.
Makan makanan yang renyah
Berdasarkan yang kita ketahui, bisakah kita mencegah impaksi?
Mungkin saja.
Kera jarang mengalami impaksi gigi bungsu.
Hal ini juga berlaku untuk manusia yang mengonsumsi makanan alami.
Rahang berevolusi untuk mengantisipasi stimulasi biomekanis dari makanan seperti kacang-kacangan, sayuran, dan daging mentah.
Sekarang, kita cenderung makan makanan lembut yang sudah diproses, seperti selai kacang lembut yang dioles di roti yang teksturnya juga empuk.
Hasilnya, dalam beberapa dekade terakhir, manusia mungkin tidak memaksimalkan potensi tulang rahang yang dimiliki.
Jika seseorang masih dalam masa pertumbuhan, ada hal yang bisa dilakukan.
Yakni, mulailah makan makanan yang lebih renyah atau yang perlu lebih banyak dikunyah seperti kacang dan sayuran mentah.
Jika memiliki anak, dorong mereka untuk makan makanan yang banyak menggerakkan rahang dari kecil mengingat hal ini sehat untuk dilakukan.
Sementara sains belum dapat membuktikannya apakah hal tersebut dapat bekerja, tidak ada salahnya untuk mencoba.
Masalah kesehatan publik
Jutaan operasi pencabutan gigi bungsu dilakukan di seluruh dunia tiap tahunnya.
Jumlah operasi pencabutan gigi bungsu ini malah lebih tinggi dari jumlah impaksi itu sendiri.
Hingga sepertiga dari operasi pencabutan gigi bungsu yang tidak perlu dilakukan.
Operasi pencabutan gigi bungsu malah punya dampak tersendiri, termasuk cedera pada gigi sebelahnya, saraf, tulang rahang, dan sinus.
Hal inilah yang membuat operasi pencabutan gigi bungsu sebagai pemborosan besar terhadap waktu, tenaga, uang, rasa sakit, dan risiko yang bisa dihindari.
Gigi bungsu yang sehat dan muncul secara baik-baik saja bukan masalah besar bagi kebanyakan orang.
Mereka mungkin hanya harus lebih memperhatikan gigi yang sulit dijangkau ini lebih baik ketika menyikat gigi agar terhindar dari pembusukan.
Beberapa, gigi bungsu yang mengalami impaksi juga tidak berisiko.
Namun, impaksi dalam beberapa kasus dapat merusak gigi geraham kedua dan tulang rahang di sekitarnya, atau menyebabkan infeksi dan rasa sakit.
Untuk kasus seperti ini, gigi bungsu perlu dicabut.
Kapan seharusnya mencabut gigi bungsu?
Beberapa dokter bedah lebih suka mencabut gigi bungsu lebih awal, pada umur 16 atau 17, walau gigi geraham pada usia ini masih dapat berputar dan muncul dengan benar.
Di sisi lain, mencabut gigi geraham ketika sudah lebih tua dapat berbahaya bagi orang tua, atau pasien yang sakit dan rapuh.
Menunggu dengan waspada mungkin menjadi pendekatan yang lebih tepat dan masuk akal, dan ini direkomendasikan oleh beberapa lembaga kesehatan, termasuk dokter gigi.
Gigi bungsu memang tidak benar-benar penting tapi mereka bukannya tidak berguna juga.
Gigi bungsu juga berfungsi untuk makan dan menjadi bagian dari tubuh.
Gigi bungsu juga menjadi sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana evolusi budaya dan pola makan manusia dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan manusia.
Julia Boughner, Associate Professor, Evolutionary Developmental Anthropology, University of Saskatchewan
(Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Reza Pahlevi)
Artikel ini sudah tayang di nationalgeographic.grid.id dengan judul “Gigi Bungsu Tidak Memiliki Fungsi dan Hanya Menyebabkan Masalah?”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/ilustrasi-gigi-bungsu-tumbuh.jpg)