Ramadan 2019

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga

Suhayati (47), korban likuifaksi Balaroa menjalani bulan puasa di tenda pengungsian bersama sang anak dan suaminya yang mengidap stroke

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga
Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz
Suhayati, salah satu korban likuifaksi di Kelurahan Balaroa yang hingga kini masih berdiam di tenda pengungsian 

Mau tak mau, menu seperti itulah yang harus dinikmati oleh Suhayati dan keluarga.

Sebab, tak banyak pilihan dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan itu.

''Hari ini saya cukup panasi sayur tadi malam, ada pemberian lauk dari orang lain,'' katanya saat disambangi Tribunpalu.com.

Bahkan, jka tak ada lagi yang bisa dimasak, maka cukup mi instan yang bisa disantap.

Pernah kata dia, Sabtu pekan lalu, tak ada lagi bahan yang bisa diolah untuk menu sahur.

Tersisa tinggal mi instan sebungkus. Itulah yang dimasak untuk sahur bagi mereka bertiga, suaminya Tomi (56) serta anak semata wayangnya.

"Alhamdulillah anak saya tidak rewel, dia terima keadaan kita," ujar wanita biasa disapa Ibu Ati itu.

Meski suaminya lumpuh akibat stroke, Suhayati (47) tak patah semangat menghidupi keluarga.

Termasuk membiayai anak semata wayangnya yang duduk di sekolah dasar.

Bagi kebanyakan orang, tanggungjawab ini mungkin berat.

Halaman
1234
Penulis: Faiz Sengka
Editor: Bobby Wiratama
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved