Ramadan 2019

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga

Suhayati (47), korban likuifaksi Balaroa menjalani bulan puasa di tenda pengungsian bersama sang anak dan suaminya yang mengidap stroke

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga
Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz
Suhayati, salah satu korban likuifaksi di Kelurahan Balaroa yang hingga kini masih berdiam di tenda pengungsian 

Tinggal di tenda di pengungsian, mengurus suami yang sudah dua tahun hanya bisa berbaring.

Kondisi itu memaksa Suhayati menjadi tulang punggung keluarga.

Tanggungjawab yang tidak ringan bagi seorang perempuan dengan usia menjelang setengah abad.

Beban itu, mungkin terasa makin berat di saat momen ramadan seperti saat ini.

Di mana nyaris semua harga kebutuhan pokok naik tajam tak mau kompromi dengan orang-orang seperti Ibu Suhayati ini.

Antara Air Putih dan Kurma, Mana kah yang Harus Didahulukan saat Buka Puasa? Ini Jawabannya

Namun harga sembako yang menyiksa itu tidak lantas membuatnya mengeluh.

Suhayati bahkan selalu menebar senyum.

Bicaranya lugas. Nadanya tegas. Menyiratkan beban hidup yang menghimpitnya kini, bukanlah realitas yang harus diratapi.

Menurutnya kondisi tersebut cukup dijalani sebagai rutinitas dari hari ke hari.

Kehidupan Suhayati yang sebelumnya tinggal di Jalan Aliander - Balaroa ini, memang sudah berat.

Halaman
1234
Penulis: Faiz Sengka
Editor: Bobby Wiratama
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved