Ramadan 2019

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga

Suhayati (47), korban likuifaksi Balaroa menjalani bulan puasa di tenda pengungsian bersama sang anak dan suaminya yang mengidap stroke

Cerita Pengungsi Balaroa, Sahur dengan Mi Instan Sebungkus Bertiga
Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz
Suhayati, salah satu korban likuifaksi di Kelurahan Balaroa yang hingga kini masih berdiam di tenda pengungsian 

Sejak dua tahun lalu, dialah tiang ekonomi keluarganya.

Ia menjual kue titipan dengan penghasilan sekitar Rp200 ribu per hari.

Namun gempa yang disusul likuifaksi, September tahun lalu, tak hanya membuat rumahnya raib.

Satu satunya mata pencahariannya sebagai penjual kue juga hilang.

Kini di pengungsian, ia mencoba kembali menjual kue titipan dari tetangga.

Modal kue Rp800 per biji. Lalu dijual Rp1.000. Ia memperoleh Rp200 untuk setiap kue yang laku.

Namun selama ramadan pendapatannya menurun karena tidak menjual di siang hari.

Apalagi kondisi ekonomi warga di pengungsian yang belum benar-benar pulih.

Usaha jualan kue tidak bisa lagi diandalkan untuk menopang ekonomi keluarganya.

''Paling banyak kue yang laku hanyaRp50 ribuan. Jadi hitung saja berapa untuk saya,'' katanya.

Tak banyak lagi yang bisa dilakukannya dengan kondisi seperti ini selain berharap bantuan dari para dermawan.

Sebenarnya, ada keinginan untuk mencari kerja di luar kompleks pengungsian.

Namun, keinginan itu harus dipendam karena ia siap 1 x 24 jam untuk menyapih suaminya yang sehari-hari terus terbaring itu.

"Semuanya tinggal diserahkan sama allah saja, semoga ini jadi ladang pahala saya juga," pungkasnya.

(Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz)

Penulis: Faiz Sengka
Editor: Bobby Wiratama
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved