Pengungsi Balaroa Salat Id di Masjid Darurat, Khatib: Maknai Musibah sebagai Tanda Kebesaran Allah

Ratusan pengungsi Kota Palu melaksankan Salat Id di masjid darurat, Rabu 5 Juni 2019 pagi

Pengungsi Balaroa Salat Id di Masjid Darurat, Khatib: Maknai Musibah sebagai Tanda Kebesaran Allah
Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz
Korban bencana di kamp pengungsian Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, SUlawesi Tengah, salat ied di masjid darurat, Rabu (5/6/2019). 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Riuh gema takbir terus dikumandangkan oleh panitia pelaksanaan salat id di masjid darurat Kamp Pengungsian Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, (5/6/2019) sekira pukul 06.15 Wita.

Warga mulai beranjak meninggalkan tenda-tenda darurat yang didiaminya selama hampir 9 bulan ini.

Tidak seperti hari-hari biasannya, cuaca tampak cerah.

Pasalnya, di hari Idulfitri ini, dari hasil prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Sulteng berawan.

Ratusan pengungsi khidmat mendengarkan khatib yang memberikan ceramah.

Khatib salat id di Balaroa
Khatib salat id di Balaroa (Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz)

Khatib H Abdul Rahman, memaknai musibah bencana alam yang belum lama ini mereka alami sebagai tanda kebesaran Allah.

Ia mengingatkan bahwa bencana merupakan peringatan agar tidak lalai dari perintah Allah.

"Dialah (Allah) yang mengakhirkan kita di dunia ini, dia pula yang memberikan rahmat kepada kita," ujarnya.

Kata dia, dengan salat umat muslim di seluruh dunia meletakkan dahi sebagai tanda kebesaran allah.

Dialah segalanya bagi umaat manusia, memberikan nikmat yang bertahun-tahun lamanya.

Halaman
1234
Penulis: Faiz Sengka
Editor: Imam Saputro
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved