Jadi Ajang Kreativitas, Festival Anak Pasigala Obati Trauma Pasca Bencana

Upaya mengobati trauma anak di daerah bencana Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) di Provinsi Sulawesi Tengah, terus dilakukan.

Jadi Ajang Kreativitas, Festival Anak Pasigala Obati Trauma Pasca Bencana
TRIBUNPALU.COM/MUHAKIR TAMRIN
Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Upaya mengobati trauma anak di daerah bencana Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) di Provinsi Sulawesi Tengah, terus dilakukan.

Sabtu (22/6/2019) siang, bertempat di Taman Gelanggang Olahraga (GOR) Palu, Yayasan Plan Indonesia, mengambil bagian dan mendatangkan ratusan anak Pasigala untuk menunjukkan kreativitas di zona yang sudah disiapkan.

Area kreativitas dibagi atas tiga zona, yakni zona bicara, zona kreatif, dan zona sehat.

Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore.
Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. (TRIBUNPALU.COM/MUHAKIR TAMRIN)

Anak-anak korban bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi itu, melakukan berbagai kegiatan menarik.

Seperti kuis rangking 1, menari tarian adat khas Sulteng, menampilkan drama, kolase, pantomim, sesi fotografi, kolase gambar, sampai olahraga futsal.

Sebanyak 262 anak dilibatkan dari daerah terdampak bencana Pasigala, yang selama 9 bulan terakhir menjadi wilayah dampingan Yayasan Plan Indonesia.

Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore.
Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. (TRIBUNPALU.COM/MUHAKIR TAMRIN)

Direktur Eksekutif Yayasan Plan Indonesia, Dini Widiastuti mengatakan, aktivitas itu dilakukan seharian penuh.

Kegiatan itu juga dimaksudkan untuk mengkampanyekan gerakan No Go Tell, alias No (katakan tidak), Go (pergi/hindari), dan Tell (laporkan).

Artinya, ketika anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan keluarga atau lingkungan sosial, maka yang harus dilakukan, yaitu menolak, menghindar, kemudian melaporkannya.

Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore.
Anak-anak berpose di kegiatan Festivai Anak Pasigala di Taman Gelanggang Olahraga Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. (TRIBUNPALU.COM/MUHAKIR TAMRIN)

Selain itu juga gerakan Ni Go Tell itu, mendrong anak untuk bisa mengutarakan apa yang dibutuhkan anak.

"Apa yang harus di lakukan, dan bagaimana hak-hak anak, bukan cuma hak untuk berkreasi, tapi juga hak untuk menyuarakan kepentingan kalian (anak-anak Pasigala, red)," ujar Dini.

Sejak bencana alam yang terjadi pada 28 September 2018, Yayasan Plan Indonesia memang melakukan program perlindungan anak di Pasigala.

Bahkan bersama remaja lokal Sulteng, mereka sudah memiliki wilayah-wilayah binaan, dan menjangkau lebih 10.000 anak. (TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Penulis: Haqir Muhakir
Editor: Wulan Kurnia Putri
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved