Hadiri Konferensi Daerah IAI Sulteng, Sekdaprov Hidayat: Cuma Apoteker yang Bisa Baca Resep

Sekdaprov Hidayat Lamakarate mengungkapkan apresiasi kepada profesi apoteker yang juga sama pentingnya dengan dokter dan perawat.

Hadiri Konferensi Daerah IAI Sulteng, Sekdaprov Hidayat: Cuma Apoteker yang Bisa Baca Resep
DOK. HUMAS PEMPROV SULTENG
Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Moh Hidayat Lamakarate (dua dari kiri), saat menghadiri Konferensi Daerah IAI Sulteng, di Kota Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Moh Hidayat Lamakarate, menghadiri Konferensi Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sulteng di Kota Palu, Sabtu (22/6/2019) sore.

Saat itu, dia mengungkapkan apresiasi kepada profesi apoteker yang juga sama pentingnya dengan dokter dan perawat.

"Karena selain belajar obat (apoteker, red.) juga belajar membaca huruf-huruf (resep, red.) dokter dan uniknya hanya mereka yang bisa," terangnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Moh Hidayat Lamakarate (dua dari kiri), saat menghadiri Konferensi Daerah IAI Sulteng, di Kota Palu, Sabtu (22/6/2019) sore.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Moh Hidayat Lamakarate (dua dari kiri), saat menghadiri Konferensi Daerah IAI Sulteng, di Kota Palu, Sabtu (22/6/2019) sore. (DOK. HUMAS PEMPROV SULTENG)

Beraktivitas di Akhir dan Awal Pekan? Cek Prakiraan Cuaca Kota Palu pada Minggu-Senin (23-24/6/2019)

Jadi Ajang Kreativitas, Festival Anak Pasigala Obati Trauma Pasca Bencana

Melalui kesempatan itu, Sekdaprov Hidayat berharap, IAI mendata daerah-daerah mana saja di Sulawesi Tengah yang kekurangan apoteker supaya nanti bisa disebar secara merata.

Ia juga meminta IAI gencar menyosialisasikan kepada masyarakat tentang manfaat obat generik yang sebenarnya sama saja dengan obat paten, yang selama ini umumnya diklaim lebih manjur tapi lebih mahal.

"Ini sangat mengganggu psikologi masyarakat," ungkapnya menyoal masih adanya masyarakat yang belum percaya dengan kemampuan obat generik.

Sementara itum Ketua Umum IAI Pusat Nurul Falah, berharap terwujudnya kesetaraan antara apoteker selaku tenaga farmasi dengan dokter selaku tenaga medis.

Kesenjangan kedua profesi itu, lanjutnya, bisa diatasi kalau saja dibangun sistem interprofessional education atau sistem pendidikan kolaborasi yang dikenalkan sejak para calon dokter, apoteker, perawat, dan rumpun medis lainnya masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah masing-masing.

"Supaya nanti waktu mengabdi terjadi kolaborasi antara tenaga farmasi dan medis jadi tidak ada yang merasa superior dan bisa saling menghargai," pungkasnya.

Selain mengikuti konferensi, menurut Ketua IAI Sulteng Jamaludin, para peserta Konferensi Daerah IAI Sulteng juga dibekali seminar dan kegiatan akan berlangsung dua hari.

(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Penulis: Haqir Muhakir
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved