Terkini Palu

Warga Kelurahan Petobo Berharap Relokasi Huntap Tak Jauh dari Lokasi Pengungsian

Banyak warga Petobo yang meminta agar tidak direlokasi ke daerah yang jauh dari tanah adat Petobo.

Penulis: Haqir Muhakir | Editor: Bobby Wiratama
TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin
Aktivitas warga di lingkungan hunian sementara yang ditempati pengungsi Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Senin (24/6/2019) sore. 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Setidaknya, sudah hampir 9 bulan lamanya, ribuan warga Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, masih bertahan di lokasi pengungsian, pasa bencana alam gempa dan likuefaksi pada 28 September 2018 lalu.

Sebanyak 2.922 kepala keluarga dengan total 10.167 jiwa yang tinggal di hunian sementara di Kelurahan Petobo, sampai Senin (24/6/2019) sore.

Sudah berbulan-bulan tinggal di huntara, membuat penghuni mendambakan hunian tetap alias huntap.

Awal Januari 2019 lalu, Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah H Longki Djanggola, mengeluarkan SK Gubernur Sulteng tentang Penetapan Lokasi Relokasi Pemulihan Akibat Bencana Alam.

Pengungsi di Huntara Petobo Berharap Segera Pindah ke Hunian Tetap

Dalam SK itu, seluas 560 hektare lahan disiapkan untuk pembangunan huntap dengan lokasi relokasi pengungsi di Kelurahan Tondo, Talise, dan Duyu.

Sedangkan di Kelurahan Petobo, saat ini masih diupayakan oleh pemerintah melalui upaya pembebasan lahan.

Kondisi itu membuat para pengungsi yang menempati huntara Petobo berharap bisa mendapatkan huntap di wilayah yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka yang berada di Kelurahan Petobo.

"Sebagian memang begitu (menolak direlokasi ke luar wilayah Petobo, red) mungkin karena mereka tidak mau tinggalkan tempat kelahiran," ujar Karmisna Wati, pengungsi yang tinggal di huntara Petobo unit 17.

Kasmina juga berharap agar warga Kelurahan Petobo tidak direlokasi ke kelurahan lain.

"Mungkin beda lokasi, tapi tetap di wilayah Petobo," jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh pengungsi lainnya, Suyatno, selaku koordinator penghuni huntara.

Dia menilai banyak warga Petobo yang meminta agar tidak direlokasi ke daerah yang jauh dari tanah adat Petobo.

" Sebagian besar warga di sini meminta agar tetap tinggal di tanah Petobo," terangnya.

Jelang Putusan MK, Bambang Widjojanto: Kami Tak Mungkin Bisa Buktikan Kecurangan

Kelurahan Petobo di Kota Palu menjadi salah satu daerah paling parah terdampak gempa dan likuefaksi.

Sebagian besar wilayah pemukiman di kelurahan itu habis ditelan bumi.

Meski begitu kata Suyatno, masih terdapat lahan yang cukup luas di arah paling timur kelurahan tersebut.

"Lahan itulah yang kita dorong agar bisa dibebaskan oleh pemerintah dan dibangun huntap, karena di situ termasuk daerah aman dan tidak masuk zona rawan bencana," jelasnya.

(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Sumber: Tribun Palu
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved