MUI Palu Sebut Kearifan Lokal Jadi Fondasi Kerukunan Antar Agama

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, memandang perlunya penguatan kearifan lokal, budaya dan adat yang ada di Sulteng.

MUI Palu Sebut Kearifan Lokal Jadi Fondasi Kerukunan Antar Agama
DOK MUI PALU
Ketua MUI Palu Prof Dr KH Zainal Abidin (kiri) saat menyampaikan materi pada dialog kerukunan intern umat kristen yang di selenggarakan oleh Kanwil Kemenag Sulteng di Palu, belum lama ini. Area lampiran 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, memandang perlunya penguatan kearifan lokal, budaya dan adat yang ada di Sulteng.

Hal itu diperlukan sebagai pendekatan dalam membangun dan meningkatkan kulitas kerukunan antar umat beragama di provinsi tersebut.

"Realitas keberagaman dalam kehidupan masyarakat merupakan kenisayaan sosial," ungkap Ketua MUI Kota Palu, Prof Dr KH Zainal Abidin, saat dihubungi, Sabtu (29/6/2019) sore.

Prof Zainal Abidin yang merupakan Guru Besar Pemikiran Islam Modern mengemukakan, agama adalah sumber nilai universal bagi penganutnya.

Namun, ketika agama diterjemahkan dalam kehidupan sosial dan bersentuhan dengan agama lain, maka dibutuhkan sikap moderat dan toleran guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis yang juga merupakan tujuan dari setiap agama.

Kearifan lokal, sebut dia, meski bersifat terbatas dalam lingkup komunitas lokalnya, tetapi memiliki kemampuan untuk merekatkan perbedaan-perbedaan yang ada, termasuk perbedaan keyakinan yang ada dalam batasan komunitasnya.

Oleh karena itu, kearifan lokal dapat dijadikan sebagai basis dalam membangun kerukunan umat.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng ini mengemukakan, kerukunan tidak diwujudkan dengan menghilangkan perbedaan karena hal itu adalah sebuah kemustahilan.

Sebaliknya, kerukunan terwujud justru melalui pengakuan dan penghargaan terhadap wujudnya perbedaan, sehingga tidak melahirkan sikap merasa benar sendiri.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat ini menyebut, mencari titik temu yang dapat menyatukan perbedaan tersebut dalam merajuk kehidupan bersama secara harmonis.

"Di sinilah kearifan lokal dapat dijadikan sebagai basis dalam menyatukan perbedaan," jelasnya.

Kearifan lokal menjadi fondasi membangun kerukunan antar umat beragama di Sulteng, juga pernah di sampaikan oleh Prof Dr KH Zainal Abidin MAg saat menyampaikan materi pada dialog kerukunan intern umat kristen di Palu beberapa waktu lalu.

Saat itu, Prof Zainal Abidin di hadapan puluhan pimpinan jemaat dan gereja di Sulawesi Tengah turut serta mengajak untuk bersama-sama memaksimalkan peran agama dalam setiap dakwah, sebagai bentuk upaya mewujudkan generasi yang moderat, menuju Sulteng damai. (TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Penulis: Haqir Muhakir
Editor: Wulan Kurnia Putri
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved