Parasite, Film 'Jenius' Rekomendasi Joko Anwar, Pemenang Festival Film Cannes 2019

Parasite hasil pertempuran yang terjadi dalam pikiran dan insting Bong Joon-ho.

Parasite, Film 'Jenius' Rekomendasi Joko Anwar, Pemenang Festival Film Cannes 2019
Twitter/Festival_Cannes
Film Parasite 

Di sinilah kejeniusan Bong Joon-ho. Joko Anwar menyebutnya sebagai film yang menggunakan otak dan hati.

Hingga akhir cerita, tak ada satupun adegan yang menggambarkan bagaimana tipuan keluarga miskin ini akhirnya terbongkar oleh Tuan Park dan istrinya.

Walau sebenarnya banyak sekali ketegangan-ketegangan yang mengarah ke sana.

Ternyata bukan hal-hal teknis seperti itu yang penting bagi sang sutradara. Bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar.

Bukan tentang siapa yang jahat dan siapa yang baik. Dia menyadari selalu ada ruang abu-abu dalam hal apapun.

Menurut Bong, di sinilah kekuatan insting seorang sutradara dipertaruhkan.

“Sutradara hanya punya insting, itu kitab saya. Berbeda dengan ahli hukum yang memiliki buku panduan khusus. Jika di lapangan kurang puas, saya pulang dan menonton film-film para mentor.”   

Kemanusiaan dan Manusia

Persoalan manusia dan sosial kemanusiaan yang paling pelik dan kerap kali sengaja diluputkan, dimunculkan oleh Bong dengan cara yang ringan.

Satir yang elegan, humor dengan tingkat intelektual yang tinggi.

Misalkan saja sebuah jendela. Bagi keluarga miskin ini, pemandangan jendela yang ia saksikan sehari-hari adalah tempat kencingnya para pemabuk tengah malam.

Namun bagi keluarga kaya, jendela adalah ruang untuk menikmati kemewahan hijau taman.

Saat hujan tiba, keluarga kaya bisa “berkemah” di halaman rumah dan menikmati puitisnya rintik itu.

Tapi bagi keluarga Kim, hujan adalah petaka yang menghanyutkan seisi rumah.

Begitu pula dengan simbol-simbol lainnya. Ia menggunakan istilah-istilah tertentu untuk mengkritisi betapa besarnya jarak antara si miskin dan si kaya.

Mereka menyebut kalangan bawah dengan orang-orang yang baunya seperti lobak basi, bau khas kalangan yang naik kereta bawah tanah.

Kecanggihan dan propaganda sebuah perangkat smart phone tak luput dari perhatian Bong.

Ia menyematkan adegan dimana Wi-Fi kini ibarat Dewa yang menyambung hidup rakyat kecil.

Betapa kini tombol “kirim” pada perangkat itu ibarat tombol rudal buatan Korea Utara yang dalam seketika bisa menghancurkan apapun.

Begitu pula dengan barang-barang buatan Amerika Serikat yang diklaim adalah produk terbaik dan dijamin kualitasnya.

Negara yang seakan menjadi kiblat semua orang. Bong juga menghadirkan kehidupan orang-orang bunker yang ternyata adalah bagian yang eksis dalam masyarakat Korea.

Dalam bunker itulah mereka bertahun-tahun mendekap dalam kegelapan, bersembunyi dari maut.

Sebagaimana semangat Bong untuk menerobos batas-batas yang ada, film ini pun tidak bisa dikotak-kotakan hanya dalam kategori tertentu.

Apa yang dikaryakan Bong melampaui sekat-sekat yang ada. Berbahagialah kita mendapat siraman karya seni dari seorang maestro yang semoga turut memecut sisi kreatif dalam diri untuk lebih berani dan ‘liar’ mencipta dan lebih memanusiakan sisi kemanusiaan kita. (Tribun-bali.com/Ni Ketut Sudiani)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Parasite: Pergulatan Menerobos Batas Imajiner

Editor: Rohmana Kurniandari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved