7 Politisi Diskusi Soal Jatah Menteri, Kubu Oposisi Tak Tutup Diri untuk Gabung Koalisi

Di acara Mata Najwa, Rabu (3/7/2019) 7 politisi berdiskusi soal rekonsiliasi yang dimaknai oleh publik sebagai transaksi kursi menteri di pemerintahan

7 Politisi Diskusi Soal Jatah Menteri, Kubu Oposisi Tak Tutup Diri untuk Gabung Koalisi
Tangkapan Layar YouTube/MataNajwa
Tujuh politisi berkumpul bersama di acara Mata Najwa, Rabu (3/7/2019) untuk mengobrolkan perihal rekonsiliasi yang dimaknai oleh publik sebagai transaksi kursi menteri di pemerintahan presiden terpilih. 

TRIBUNPALU.COM - Tujuh politisi dari tujuh partai politik di Indonesia blak-blakan soal 'perlu atau tidak' dan 'mau atau tidak' oposisi menjadi koalisi.

Tiga dari tujuh politisi tersebut berasal dari partai koalisi pendukung pasangan Joko Widodo-Maruf Amin.

Mereka adalah, Johny G Plate dari Partai Nasdem, Deddy Sitorus dari PDIP, dan Lukman Edy dari PKB.

Sementara empat sisanya adalah politisi dari partai pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang selama ini dikenal sebagai oposisi.

Mereka adalah Arief Poyuono dari Gerindra, Aboe Bakar Al-Habsyi dari PKS, Edy Soeparno dari PAN, dan Jansen Sitindaon dari Partai Demokrat.

Mereka bertujuh berkumpul bersama di acara Mata Najwa, Rabu (3/7/2019) untuk mengobrolkan perihal rekonsiliasi yang dimaknai oleh publik sebagai transaksi kursi menteri di pemerintahan presiden terpilih.

Dari kubu koalisi ditanya oleh Najwa perihal perlu tidaknya kubu oposisi merapat ke kubu koalisi Jokowi-Maruf Amin.

Sementara kubu oposisi, mendapat pertanyaan tentang 'mau atau tidak' bergabung ke koalisi.

Saat ditanya oleh Najwa secara berurutan, Johny G Plate mengaku pihak oposisi tidak perlu bergabung menjadi koalisi.

"Tidak perlu, ini bukan politisi lagi karena blak-blakan," kata Johny G Plate.

Sementara, politisi PKB, Lukman Edy menilai kerjasama dibutuhkan di parlemen dan MPR.

Sedangkan, di pemerintahan eksekutif oposisi tidak perlu menyeberang ke koalisi.

"Kalau di parlemen perlu, di MPR perlu, di pemerintahan tidak perlu," ujar Lukman Edy.

Saat ditanya apakah pantas oposisi menyeberang, Lukman Edy menilai sah-sah saja selama oposisi memiliki kapasitas untuk membantu pemerintah.

"Dan pantas saja. Kalau untuk pemerintahan, mereka punya kader-kader yang baik nggak, untuk membantu Pak Jokowi-Maruf, kalau punya ya menjadi pantas."

Soal rela atau tidak, Lukman Edy rela saja selama tidak mengurangi jatah kursi yang diajukan partainya.

"Asal tidak mengurangi kursi PKB rela-rela saja," ungkapnya.

Sementara itu, dari kubu oposisi, Arief Poyuono mengaku pihaknya tidak menutup diri untuk bergabung ke koalisi.

"Kami tidak menutup kemungkinan untuk berkoalisi," ujar Arief.

Terkait malu atau tidak bergabung dengan koalisi, Arief mengaku tidak harus malu untuk kepentingan bangsa dan negara.

"Kalau untuk bangsa dan negara, buat apa malu," imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Edy Suparno dan Jansen Sitindaon.

Edy Soeparno merasa perlu untuk membantu pemerintah dalam menghadapi tantangan yang akan dilalui Indonesia di masa depan, terutama tantangan di bidang ekonomi.

"Di eksekutif, saya lihat ke depannya beban bangsa ini ke depan cukup berat terutama di sektor ekonomi," kata Edy Soeparno.

"Jadi kalau memang ada keperluan untuk meringankan beban dengan melibatkan teman-teman yang lain, rasanya bukan hal yang mustahil."

"Tapi jangan sekedar jadi pelengkap," imbuhnya.

Jansen Sitindaon pun melontarkan argumentasi yang kurang lebih memiliki makna yang sama.

Jansen menyebut selama Jokowi cocok dan nyaman dengan Demorat, maka kemungkinan untuk bekerja sama sangat tinggi.

"Sepanjang Pak Jokowi butuh Demokrat dan nyaman dengan Demokrat dan kita juga nyaman dengan Pak Jokowi, sepanjang itu terpenuhi tentu kita siap membantu Pak Jokowi," ujar Jansen.

Yang tegas mengatakan tidak akan bergabung di pemerintahan Jokowi adalah Aboe Bakar Al-Habsyi.

Aboe Bakar Al-Habsyi mengaku pihaknya akan menjadi kubu penyeimbang dan mengontrol penguasa.

"Tidak mau. Kita kasih kesempatan beliau berkuasa, kita kontrol dari sebelah," ujar Aboe Bakar Al-Habsyi.

"Kita jadi penyeimbang, sepeda itu berjalan kalau pedal kiri dan pedal kanan saling bergerak, kalau kirinya bergerak harus dikontrol dengan kanan, kalo enggak, enggak jalan itu sepeda."

"Demokrasi enggak jalan, jatuh negara," pungkasnya.

Simak video lengkap pernyataan ketujuh politisi tersebut di bawah ini.

(TribunSolo.com/Fachri Sakti Nugroho)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul 7 Politisi Kubu Jokowi dan Prabowo Blak-blakan soal Jatah Menteri, Nasdem Tak Rela Oposisi Ikutan

Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved