Delapan Bulan Di Pengungsian, Korban Bencana di Palu Masih Sulit Mendapatkan Air Bersih

Delapan bulan tinggal di pengungsian pascagempa , para pengungsi di Kota Palu masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih

Delapan Bulan Di Pengungsian, Korban Bencana di Palu Masih Sulit Mendapatkan Air Bersih
Istimewa/ACT
Penyaluran air bersih di Kota Palu 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Ratusan kepala keluarga korban bencana alam di Kota Palu hingga kini masih bertahan di tenda pengungsian.

Informasi yang dihimpun, Selasa (9/7/2019), salah satu yang menjadi kebutuhan dasar bagi para penyintas tersebut adalah air bersih.

Seperti yang dirasakan kurang lebih lima ratus jiwa korban bencana yang kini masih bertahan di tenda pengungsian di kompleks Gedung Olahraga (GOR) Madani Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Salah seorang warga Talise, Nadir yang menjadi korban tsunami pada September 2018 silam, mengaku sudah delapan bulan bersama keluarganya tinggal di tenda darurat di kompleks GOR Madani.

Menurutnya salah satu kebutuhan dasar bagi mereka adalah air bersih.

4 Pengedar Sabu-sabu di Sigi yang Di

Serius Tantang Pendiri Facebook, Susi Pudjiastuti Ingin Gunakan Hadiah untuk Perangi Ilegal Fishing

amankan Polda Sulteng Terancam Penjara Sampai 20 Tahun

Palu Hari Ini: Polda Sulteng Berhasil Ringkus Pengedar Sabu-sabu 3 Kg, Pemilik Terancam Hukuman Mati

Nadir mengungkapkan, untuk mendapatkan air bersih ia harus mengambil air di sumur bekas rumahnya yang dihantam tsunami di kawasan Pantai Talise.

Itu dilakukannya setiap hari meski menempuh jarak sekitar 2 kilometer dari lokasi pengungsian.

"Jadi saya itu setiap hari naik motor bawa jeriken ambil air bersih di sumur bekas rumahku," akunya.

Maski setiap saat ada distribusi air dari NGO atau pemerintah setempat, namun kata dia air tersebut tidak layak konsumsi.

"Paling hanya digunakan untuk mencuci piring, pakaian dan mandi, tapi kalau untuk memasak tidak," keluh Nadir.

Update Liga 1, Main Imbang dengan Barito Putera, Persebaya Surabaya Naik di Posisi Empat Klasemen

 

Di sisi lain,  ayah empat anak ini mengakui masih trauma jika berada dibekas rumahnya di pinggiran Pantai Talise.

Pasalnya bencana besar di hari jumat itu menjadi hari terakhir ia bersama ibunya.

"Jasad ibu saya itu ditemukan delapan hari setelah kejadian," pungkasnya.

(Tribupalu.com/Abdul Humul Faaiz).

Penulis: Faiz Sengka
Editor: Imam Saputro
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved