Minggu, 19 April 2026

Pengungsi di Kelurahan Balaroa Sudah 4 Bulan Tak Terima Suplai Air Bersih

Menjelang 10 bulan tinggal di pengungsian dengan tenda darurat, kondisi penyintas di shelter pengungsian di Kelurahan Balaroa kian kesulitan.

Penulis: Haqir Muhakir |
TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin
Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang. 

TRIBUNPALU.COM, PALU -- Menjelang 10 bulan tinggal di pengungsian dengan tenda darurat, kondisi penyintas di shelter pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, kian kesulitan.

Sebab, sudah empat bulan terakhir, ketersediaan air bersih di lokasi pengungsian itu, sangat terbatas.

Alhasil, pengungsi kesulitan mendapat air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti untuk mandi, cuci pakaian, dan buang air besar.

"Sudah ada empat bulan lebih, kami di sini di sini tidak dapat suplai air bersih," ungkap Ratih, penghuni tenda darurat pengungsian Kelurahan Balaroa, Kamis (18/7/2019) siang.

Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang.
Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang. (TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin)
Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang.
Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang. (TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin)

Di kawasan huntara yang dihuni 392 KK dengan 1.969 jiwa terdapat sebanyak 21 blok tempat tinggal, lengkap dengan tandon penampungan air.

Namun, tandon penampungan air itu tidak berfungsi, selama tidak ada suplai air bersih.

Yusuf, pengungsi lainnya mengatakan, di lokasi pengungsian yang gersang dan cuaca panas di siang hari, pengungsi sangat membutuhkan suplai air yang cukup.

Untuk memenuhi kebutuhan air selama suplai tidak ada, warga pengungsi di lokasi itu bahu membahu secara swadaya, membangun jaringan pipa air dari mata air yang jaraknya sekitar tiga kilometer di atas lokasi pengungsian.

Air bersih melalui pipa itu hanya mengalir pagi dan sore setiap harinya.

"Kalau untuk air minum, kita beli air galon (air kemasan isi ulang)," jelas Yusuf.

Jadi Viral di di Media Sosial, Simak Bahaya Penggunaan FaceApp

Setya Novanto Kembali ke Lapas Sukamiskin, Menkumham: Sudah Betul-Betul Bertaubat

Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang.
Aktivitas pengungsi di shelter tenda darurat pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kamis (18/7/2019) siang. (TRIBUNPALU.COM/Muhakir Tamrin)

Profil 12 Srikandi yang Bakal Ikuti Seleksi Uji Kompetensi Calon Pimpinan KPK Hari Ini

Ayah dan Anak Korban Kecelakaan di Kota Bitung Dimakamkan Satu Peti, Pengemudi Mobil Jadi Tersangka

Koordinator Lapangan Posko Pengungsian, Abas Yabi menjelaskan, tandon air yang tersedia di 21 blok pengungsian Balaroa itu memang sudah tidak menerima suplai air di untuk semua titik.

"Yang terima air itu hanya beberapa titik, itu karena lokasi blok itu adalah binaan salah satu pihak swasta," kata Abas.

Sedangkan untuk lokasi yang lain, kata Abas, memang sudah tidak lagi menerima suplai air bersih dari PUPR dan PMI.

Sebab, PUPR dan PMI merupakan instansi yang rutin menyuplai air bersih di lokasi pengungsian tenda darurat di Kelurahan Balaroa tersebut.

"Kita sudah laporkan kepada pemerintah Kota Palu dan mereka sampaikan segera ada penanganannya," terang Abas.

(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved