Palu Hari Ini

Petani Garam di Palu Keluhan Harga Jual yang Rendah

Para petani garam di lokasi penggaraman Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, melakukan produksi garam lokal, Sabtu (19/7/2019) sore.

Petani Garam di Palu Keluhan Harga Jual yang Rendah
TribunPalu.com/Muhakir Tamrin
Solihin, petani garam di Kelurahan Talise, sedang membersihkan lumpur dari rendaman air laut di tambak miliknya, Sabtu (20/7/2019) sore. 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Para petani garam di lokasi penggaraman Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, melakukan produksi garam lokal, Sabtu (19/7/2019) sore.

Aktivitas produksi para petani garam di Kota Palu itu sudah berlangsung beberapa bulan pasca-lahan tambak rusak parah dihantam tsunami, pada 28 September 2018 lalu.

Pada Sabtu sore, sebagian petani ada yang baru saja melakukan panen dan hasilnya siap dijual pada pengepul.

Ada juga sejumlah petani yang sedang membersihkan rendaman air laut dari lumpur, hal itu dilakukan untuk menjamin kualitas garam yang akan dipanen.

"Kalau sering dibersihkan lumpurnya, hasil panennya juga bagus, jadi kristal garam yang putih bersih," jelas Solihin Sause, petani garam di Penggaraman Kelurahan Talise.

Pesan Guru Besar IAIN Palu pada Jemaah Calon Haji: Perhatikan Kesehatan Fisik

Pemilik empat petak tambak garam itu, mengakui hasil panen pasca-bencana jauh lebih baik, baik kualitas hasil panen maupun jumlah produksi.

Hanya saja, kata Solihin, harga jual garam tambak di tingkat petani masih cukup rendah, yang tentu saja sangat mempengaruhi pendapatan petani garam di kawasan itu.

Saat ini, harga jual di tingkat petani yang dipasarkan kepada para pengepul, berada di kisaran Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu per karung dengan bobot 50-60 kilogram.

Padahal di pengecer, kata dia, harga jual garam mencapai Rp 5.000 per kilogram.

"Salah satu yang berpengaruh ini, ada garam tambak yang dari Surabaya dan Makassar yang masuk di Palu, jadi harga di petani di ambil di bawah," kata Solihin.

Pionir IX di Malang, Atlet IAIN Palu Sabet Medali Emas Cabor Taekwondo

Solihin berharap, agar harga di tingkat petani bisa lebih tinggi, yang dapat mempengaruhi pendapatan petani di lokasi tersebut.

Akibat bencana tsunami September 2018 lalu, petani di lokasi tersebut harus menghentikan produksi garam tambak, karena tambak garam yang rusak.

Beberapa bulan setelahnya, petani mendapat bantuan dari pihak swasta yang memberikan bantuan untuk perbaikan pematang tambah, alat sedot air, dan keperluan lainnya yang dibutuhkan untuk produksi garam. (TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Penulis: Haqir Muhakir
Editor: Rohmana Kurniandari
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved