Huntara Poboya, Palu Berkonsep Rumah Tradisional, Terbuat dari Bambu dan Rumbia
Hunian sementara di depan Markas Perintis Polda Sulteng, Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu memiliki konsep yang unik dan ramah lingkungan
Penulis: Haqir Muhakir | Editor: Imam Saputro
TRIBUNPALU.COM - Hunian sementara (huntara) di depan Markas Perintis Polda Sulteng, Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu memiliki konsep yang unik dan ramah lingkungan.
Huntara yang ditinggal 12 kepala keluarga itu dibuat dengan bahan utama bambu dan daun rumbia.
Selain itu, huntara dibangun dengan desain rumah tradisional Palu.
Lokasi huntara yang dibangun atas inisiatif Yayasan KUN itu, berada di depan Markas Perintis Polda Sulteng, bisa ditempuh dari Jalan Lagarutu di Kelurahan Talise Valangguni.
• Ramalan Zodiak Hari Ini,Minggu 4 Agustus 2019: Cancer Rencanakan Masa Depan, Aries Baiknya Hati-hati
Konsep huntara itu terbilang unik dan ramah lingkungan, karena terbuat dari bahan bambu dan daun rumbia.
Bentuk bangunannya pun menyerupai rumah khas suku Kaili, yang disebut soki-soki.
"Kami sudah ada sekitar 3 minggu tinggal di sini, sebagian ada yang baru beberapa hari tinggal," jelas satu di antara warga yang tinggal di huntara, Aida, saat ditemui, Sabtu (3/8/2019) sore.
Bentuk huntara ramah lingkungan itu ada 2 macam, ada yang rumah panggung, ada yang lantainya melekat di tanah.
Huntara itu dibangun dengan dua bahan utama, yakni bambu dan daun rumbia.
Untuk lantainya, khusus rumah panggung lantainya dibuat dari bambu bulan dan dan susunan bambu yang dibelah.
• Update Klasemen Liga 1 2019, Persija di Zona Degradasi, Persib Masih di Luar 10 Besar
Sedangkan untuk dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang disebut pitate.
Sedangkan untuk atapnya terbuat dari anyaman daun rumbia.
"Kalau dalamnya, ada kamar, ada ruang tamu, di depan ada teras juga, semuanya bahannya dari bambu dan rumbia, jelas Aida.
Sementara itu, ramainya kunjungan masyarakat ke kawasan Hutan Kota Kaombona di Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, membuka lapangan baru bagi warga.
Seperti yang dilakukan Helmi alias Heni, warga Jalan Yos Sudarso III, Kelurahan Talise, yang membuka usaha penyewaan kostum hanbok korea.
Jasa penyewaan kostum ala korea itu mendapat tanggapan positif pengunjung Hutan Kota Kaombona.
Tak sedikit pengunjung tertarik menyewa kostum untuk mengabadikan foto di antara pepohonan khas Hutan Kota Kaombona.
Berbagai macam pose kekinian pun diabadikan pengunjung dengan kostum hanbok korea tersebut.
• Palu Hari Ini: Foto Dengan Kostum Hanbok Korea Digemari Pengunjung Hutan Kota Kaombona
Mulai dari berdiri di antara pohon, duduk di kursi, memegang payung, hingga pose seolah berjalan dan melenggang.
Harga sewa kostum Rp15 ribu di hari Senin-Jumat, di akhir pekan Rp25 per kostum lengkap dengan layung dan aksesori.
"Tapi kadang juga ada diskon kalau sewa banyak, biar akhir pekan, dan pendapatannya kalau Sabtu-Minggu biasa tembus Rp1 juta per hari," kata Helmi, saat ditemui, Sabtu (3/8/2019) sore.
Helmi merupakan salah seorang penyintas yang bertahan hidup di Kota Palu pasca bencana 28 September 2018 lalu.
Kondisi rumahnya yang retak-retak karena gempa bumi ditambah usaha permak pakaian miliknya yang kemudian sepi ternyata tak menyurutkan usaha Helmi untuk mencari nafkah.
Saat berkunjung ke Hutan Kota Kaombona beberapa bulan lalu, Helmi mendapat inspirasi untuk membuka usaha penyewaan kostum hanbok korea.
• Dihipnotis Lihat Sosok Wanita Ini, Raffi Ahmad: Dulu Mama kok Sekarang Mbak
Ide itu muncul saat melihat beberapa pengunjung yang antusias menyewa kostum hanbok korea dari salah seorang penyedia jasa sewa.
Namun, jumlah yang tersedia pada penyedia jasa sewa kostum hanbok korea itu sangat terbatas.
Melihat itu, Helmi memutuskan untuk menggeluti usaha sewa kostum hanbok korea.
Dengan keahlian menjahit yang dimiliki Helmi, membeli bahan kain dan membuat kostum hanbok korea sendiri.
"Saya buat sendiri di rumah, dalam 1 hari bisa buat kostum 5 buah," kata Helmi.
Setelah menyelesaikan pekerjaan selama seminggu, Helmi berhasil membuat puluhan kostum.
Hasilnya, kostum yang ditawarkan sangat disukai pengunjung.
Berpose dengan kostum buatan Helmi, tampak lebih sempurna saat berada di tengah-tengah pohon dengan dedaunan yang tampak kering dan batang yang kokoh.
(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/huntara-ramah-lingkungan-di-kelurahan-poboya.jpg)