Peneliti Harvard-Columbia Sebut Asap Kebakaran Hutan dan Gambut Percepat Kematian Dini di Indonesia

Tim penelitian dari Harvard University dan Columbia University mempublikasikan kajian mengenai dampak kesehatan bencana kebakaran hutan dan gambut.

Peneliti Harvard-Columbia Sebut Asap Kebakaran Hutan dan Gambut Percepat Kematian Dini di Indonesia
KOMPAS.com/IDON TANJUNG
Seorang petugas Manggala Agni mematikan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Terkul, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (20/2/2019). 

TRIBUNPALU.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo menerima perwakilan tim penelitian gabungan dari Harvard University dan Columbia University yang telah mempublikasikan kajian mengenai dampak kesehatan bencana kebakaran hutan dan gambut pada negara-negara di Asia.

Kajian yang berjudul “Fires, Smoke Exposure, and Public Health: An Integrative Framework to Maximize Health Benefits from Peatland Restoration” tersebut telah dipublikasikan pada tanggal 24 Juli 2019 di jurnal internasional Geohealth.

Penelitian ini menelaah kaitan antara pengelolaan hutan dan lahan serta alih fungsi lahan gambut, bencana asap, paparan polutan partikulat PM 2.5 terhadap populasi dan menghitung dampaknya pada tingkat kesehatan masyarakat.

Menyorot bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, tim gabungan ini mengembangkan modelling yang dapat menghitung dan membandingkan dampak kesehatan pada Indonesia, Singapura dan Malaysia di bawah berbagai skenario.

Kepala Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menerima perwakilan tim penelitian gabungan dari Harvard University dan Columbia University.
Kepala Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menerima perwakilan tim penelitian gabungan dari Harvard University dan Columbia University. (Ist/Tribunnews.com)

Menurut peneliti Harvard University Tina Liu, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi akibat perubahan tata guna dan tutupan lahan, serta adanya kebakaran di lahan gambut yang kaya akan karbon, dan faktor meteorologi (seperti kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Nino).

"Penelitian menemukan, jika pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak berjalan maksimal, dalam jangka panjang, kematian dini yang ditimbulkan dapat mencapai angka 36 ribu jiwa per tahun di seluruh wilayah terdampak selama periode 2020 hingga 2030. Dari angka tersebut 92 persen kasus kematian dini diperkirakan akan terjadi di wilayah Indonesia, 7 persen di Malaysia, dan 1 persen di Singapura," ungkap Tina Liu.

Kajian mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi di lahan gambut merupakan jenis kebakaran yang paling sulit untuk dipadamkan.

Akibatnya, bencana asap bisa berlangsung berminggu-minggu karena api terus hidup di dalam lahan gambut.

Selain itu kebakaran lahan gambut menimbulkan asap paling pekat penuh dengan partikulat PM 2.5 yang dapat menimbulkan masalah pernafasan, kanker, penyakit kardiovaskuler dan stroke.

Bencana asap menyebabkan adanya paparan PM 2.5 yang dapat mempercepat kematian (kematian dini).

Penelitian Terbaru Ungkap Polusi Plastik Ancam Kadar Oksigen di Dunia

Penelitian di Inggris Ungkap 9 dari 10 Serangga Terbang di Rumah Sakit Bawa Bakteri Berbahaya

Penelitian Ungkap Perempuan Punya Risiko Depresi Lebih Tinggi Jika Bekerja Lebih dari 9 Jam Sehari

Halaman
123
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved