Bisnis dan Ekonomi

Pengamat Pajak Buka Suara Soal Kebijakan Bea Cukai Larang Jastip Via Media Sosial

Pihak Bea dan Cukai meminta pelaku jastip agar melakukan kegiatan jual beli melalui platform resmi seperti di e-commerce, bukan melalui media sosial

Pengamat Pajak Buka Suara Soal Kebijakan Bea Cukai Larang Jastip Via Media Sosial
Alex Suban/Warta Kota
Para suami menunggu istrinya yang berbelanja di Toko Matahari, Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Rabu (22/11/2017). 

TRIBUNPALU.COM - Perkembangan teknologi turut membuka banyak peluang usaha baru, salah satunya adalah jasa titip ( jastip).

Banyak orang mulai membuka jasa titip untuk menambah pundi-pundi pemasukan.

Dengan memanfaatkan media sosial, peluang jasa titip ini pun menjadi lahan segar untuk menggali rupiah.

Sayangnya, maraknya pelaku jasa titipan yang menjual barang-barang mewah membuat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) serta pelaku industri ritel gerah.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan telah melakukan beberapa penertiban terhadap pelaku jasa titipan.

Jelang Akhir Tahun, 23 Perusahaan Masih Mengantre untuk Turun di Lantai Bursa, Ini Daftarnya

Simak Spesifikasi Samsung Galaxy A70s, Dijual Seharga Rp 5 Jutaan

Pihak Bea dan Cukai juga meminta para para pelaku jastip untuk melakukan kegiatan bisnis secara resmi dengan menaati prosedur kepabeanan hingga melakukan kegiatan jual-beli secara adil.

Mereka meminta agar penyelenggara jastip yang ingin bisnisnya berjalan secara legal diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan wajib menyatakan bahwa barang yang mereka bawa sebagai barang dagangan, bukan sebagai barang pribadi seperti yang saat ini kerap terjadi.

Pelaku jastip juga diminta agar melakukan kegiatan jual beli melalui platform resmi seperti di e-commerce, bukan melalui media sosial.

Menanggapi hal ini, praktisi pajak Yustinus Prastowo mengatakan, aturan untuk pelaku para jastip memang harus lebih jelas karena hal ini adalah sebuah fenomena baru yang memanfaatkan teknologi.

"Aturannya juga musti jelas. Ini kan fenomena baru memanfaatkan perkembangan teknologi," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/9/2019).

Halaman
12
Editor: Bobby Wiratama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved