Menilik Joker dan Ungkapan 'Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti' dari Kacamata Psikologi

Muncul kalimat 'Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti' dalam jagat maya setelah para warganet menonton Film Joker.

Warner Bros. Pictures
Trailer Film joker 

TRIBUNPALU.COM - Film Joker garapan sutradara Todd Phillips sudah lima hari menghiasi layar kaca Indonesia dan tetap menjadi perbincangan hangat.

Sisi kelam masa lalu Joker, dibungkus dengan akting memukau Joaquin Phoenix, menjadi salah satu kekuatan utama film ini.

Namun terlepas dari itu, salah satu yang menarik adalah munculnya kalimat 'Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti' dalam jagat maya.

Tulisan ini banyak diunggah warganet setelah menonton film berdurasi 122 menit itu.

Tentu saja tak semua orang setuju dengan pernyataan tersebut.

Banyak warganet yang justru beranggapan bahwa kalimat tersebut tidak relevan dan omong kosong.

Lantas, bagaimana psikolog memandang pernyataan 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti'?

Apakah kalimat tersebut benar, atau justru hanya menjadi tameng untuk diri sendiri?

Trailer Film joker
Trailer Film joker (Warner Bros. Pictures)

Raup Keuntungan Rp 3,26 Triliun dalam Sepekan, Film Joker Pecahkan Rekor Bulan Oktober

Film Gundala Diputar di Festival Film Internasional Toronto, Bersaing dengan Joker dan Radioactive

Menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi psikolog sosial Solo Hening Widyastuti.

"Menurut saya pribadi, (pernyataan 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti') tidak benar," ujar Hening saat dihubungi Senin (7/10/2019).

Hening melihat, Joker dan ungkapan 'orang jahat adalah orang baik yang tersakiti', hanya berpengaruh pada pribadi-pribadi yang lemah secara emosi ataupun pikirannya.

Hal ini bisa terjadi pada remaja dan juga orang dewasa.

"Meski hanya sebuah film, sebuah rangkaian cerita yang disusun terencana oleh penulis skenario, sutradara, tim kreatif, dan pemain, akan tetapi sebuah film mampu mendoktrin dan memengaruhi alam berpikir dan alam bawah sadar manusia, terutama mereka yang tidak stabil emosi dan pikirannya," ungkap Hening.

"Untuk kasus film Joker, tidak bisa dipukul rata. Apa yang dialami Joker hanya bisa terjadi pada jiwa yang lemah dalam prinsip dan konsep diri yang tidak kuat," sambung Hening.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved