Megawati Disebut Masih Dendam kepada SBY oleh Andi Arief, PDIP: Jangan Main Politik Asal Bunyi

Ketua DPP PDIP Said Abdullah meminta Wasekjen Demokrat Andi Arief tidak asal berbicara soal tudingan Megawati masih dendam kepada SBY dan AHY.

Megawati Disebut Masih Dendam kepada SBY oleh Andi Arief, PDIP: Jangan Main Politik Asal Bunyi
pdiperjuangan-jatim.com via Tribunnewswiki.com
Said Abdullah, politisi PDI Perjuangan. 

TRIBUNPALU.COM - Ketua DPP PDIP Said Abdullah meminta Wasekjen Demokrat Andi Arief tidak asal berbicara soal tudingan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih dendam kepada Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan juga kepada anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) .

"Ya menurut saya yang pertama itu, letakkanlah segala sesuatu sebagaimana porsinya, jangan Andi Arief jangan main politik asal bunyi, tidak beretika," kata Said saat dihubungi, Minggu, (27/10/2019).

Menurut dia, dalam konstitusi di Indonesia sudah jelas disebutkan bahwa pemilihan menteri merupakan hak prerogatif presiden.

Sehingga, katanya, tidak ada sama sekali hubungannya dengan Parpol Pengusung atau pimpinan Parpolnya.

Mengintip Rumah Susi Pudjiastuti di Pangandaran, Luas Tanah 5 Hektar dan Ada Flight Simulator

4 Fakta Susi Pudjiastuti Pulang Kampung, Tak Lagi Jabat Menteri hingga Antusiasme Sambutan Warga

Gibran Rakabuming Raka Bertemu Ketum PDIP Megawati Sampaikan Keseriusan Maju Pilwalkot Solo

"Karena apa? Dalam konstruksi konstitusi kita, pemilihan menteri itu adalah wewenang penuh prerogatif presiden, sehingga tidak ada hubungan dengan bu Mega. Itu yang pertama," katanya.

Menurut Said, Megawati merupakan politikus senior.

Megawati tidak menyimpan dendam kepada AHY.

Sehingga, ujarnya, tidak masuknya AHY dalam kabinet tidak ada hubungannya dengan Megawati.

"Tidak mungkin lah seorang ibu Megawawati, seorang negarawan, sudah makan asam garam politik Indonesia, tiba-tiba ditembak oleh Andi Arief seolah-olah dendamnya ibu Mega," katanya.

Tidak ada itu, di kami semua tidak ada itu. Berakhir sudah itu, enough is enough. Tak boleh lagi kita mengembangkan istilah dendam dan sebagainya," pungkasnya.

Halaman
12
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved