BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Puting Beluing, Kenali Indikasinya Berikut

Miming menyampaikan, fenomena puting beliung umumnya terjadi di periode masa transisi atau peralihan musim, yaitu pada Maret-Mei atau September-Nov

BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Puting Beluing, Kenali Indikasinya Berikut
Tribun Lampung
Ilustrasi Puting Beliung 

TRIBUNPALU.COM - Fenomena puting beliung lebih banyak terjadi pada masa transisi, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya.

Puting beliung sejatinya merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi. Hal itu terutama ketika terjadi hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang yang berdurasi singkat.

Namun pusaran angin puting beliung yang dihasilkan bersifat merusak dan mampu menghancurkan bangunan-bangunan yang dilewatinya.

Tak jarang fenomena angin puting beliung ini membuat masyarakat panik.

Sebenarnya, apa puting beliung itu?

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG), Miming Saepudin, menjelaskan bahwa puting beliung merupakan fenomena angin kencang yang bentuknya berputar menyerupai belalai, keluar dari Awan Cumulonimbus (CB) dan terjadi di daratan.

Jika putaran angin terjadi di perairan, lanjut Miming, fenomena dinamakan water spout.

“Puting beliung terbentuk dari jenis awan CB, tetapi tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena puting beliung,” kata Miming kepada Kompas.com, Minggu (27/10/2019) siang.

Miming menambahkan, terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan puting beliung, seperti kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu.

Hal tersebut mengindikasikan udara sangat tidak stabil.

Miming menyampaikan, fenomena puting beliung umumnya terjadi pada periode masa transisi atau peralihan musim, yaitu pada Maret-Mei atau September-November.
Halaman
12
Editor: Imam Saputro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved