Belum Ada Obatnya, Pemrov Sulteng Minta Sentra Peternakan Babi Waspadai Penyakit Demam Babi Afrika

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah meminta daerah sentra peternak babi rakyat di Sulteng mewaspadai African Swine Fever (ASF) alias Demam Babi Affika

Belum Ada Obatnya, Pemrov Sulteng Minta Sentra Peternakan Babi Waspadai Penyakit Demam Babi Afrika
Humas Pemprov Sulteng
Asisten II Gubernur Sulteng Bunga Elim Somba, saat menghadiri focus group discussion mitigasi penyakit hewan menular ASF di komplek Kantor Gubernur Sulteng, Selasa (5/11/2019) siang. 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah meminta daerah sentra peternak babi rakyat di Sulteng mewaspadai African Swine Fever (ASF) alias Demam Babi Affika.

Hal dikatakan oleh Asisten II Gubernur Sulteng Bunga Elim Somba di focus group discussion mitigasi penyakit hewan menular ASF di komplek Kantor Gubernur Sulteng, Selasa (5/11/2019) siang.

Penyakit demam babi itu kata Elim, sapaannya, harus diwaspadai, karena serangan yang tiba-tiba, tanpa gejala awal dan sangat mematikan.

"Belum ada obatnya, jadi kita harus ekstra hati-hati," ujar Elim.

Di Sulteng saat ini terdapat sejumlah kabupaten yang menjadi sentra peternakan babi rakyat, yakni Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, Banggai dan Parigi Moutong.

Diketahui kata Elim, demam babi telah menyebabkan kematian 3 juta ekor ternak babi di Cina, Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam sampai April 2019 dan dikhawatirkan dapat masuk ke Indonesia.

FGD ini, lanjut Elim, pentimg untuk menyamakan persepsi, metodologi dan sinergitas mencegah masuknya wabah demam babi ke Sulteng.

Sebab Dirjen Otoritas Veteriner Nasional telah merekomendasikan tindakan teknis di ranah preborder, border dan postborder guna meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang belum bisa disembuhkan itu.

"Meliputi TKH (Tindakan Karantina Hewan, red) di tempat tujuan dan pembatasan lalu lintas oleh instansi terkait yang berwenang," jelas Elim.

FGD mitigasi penyakit hewan menular ASF itu diprakarsai oleh Balai Karantina Kelas II Palu.

Kepala Balai Karantina Kelas II Palu, drh Ida Bagus Hary Soma Wijaya menyampaikan, bila ASF sampai ke Indonesia berpotensi mematikan pendapatan 285.315 peternak babi lokal dengan taksiran kerugian mencapai lebih dari 258 Miliar Rupiah.

Lanjutnya, Indonesia adalah eksportir utama bagi Singapura dengan total ekspor mencapai 279.278 ekor babi hidup dan 613 kilogram produk olahan senilai total Rp 837 miliar.

"Semoga kita memperoleh hasil konkrit untuk menyusun sistem kewaspadaan dan kesiagaan menghadapi wabah ini," jelasnya.

(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)

Penulis: Haqir Muhakir
Editor: Imam Saputro
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved