Presiden Brazil Jair Bolsonaro Ancam Keluar dari WHO, Ikuti Jejak Presiden AS Donald Trump?

"Saya mengatakannya sekarang, AS sudah meninggalkan WHO, dan kami tengah mengkajinya di masa mendatang," ujar Jair Bolsonaro.

instagram.com/jairmessiasbolsonaro
Presiden Brasil Jair Bolsonaro 

TRIBUNPALU.COM - Presiden Brazil Jair Bolsonaro mengeluarkan ancaman, dia akan membawa negaranya keluar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Ancaman itu mengikuti koleganya, Presiden AS Donald Trump, yang sudah lebih dahulu mengumumkan hengkang dari organisasi di bawah PBB itu.

"Saya mengatakannya sekarang, AS sudah meninggalkan WHO, dan kami tengah mengkajinya di masa mendatang," ujar Jair Bolsonaro.

Kepada awak media di depan kantor kepresidenan, Prsiden Brazil berusia 65 tahun itu menyebut organisasi itu "ideologinya bias".

Pesan Mahfud MD Jika Kampus Kembali Dibuka: New Normal Protokol Kesehatan Nomor Satu

Donald Trump Berlakukan Darurat Sipil di Sejumlah Kota di AS untuk Cegah Kerusuhan Meluas

Jumlah Kasus Covid-19 di Brazil Capai 310 Ribu, Presiden Jair Bolsonaro Konsisten Remehkan Corona

Tanggapan Mahfud MD soal Kontroversi Seputar New Normal di Tengah Pandemi Covid-19

Kata Asosiasi Pedagang Pasar soal Sulitnya Penerapan New Normal di Pasar Tradisional

Optimis Penanganan Covid-19 di Indonesia, Achmad Yurianto: Kalau Pesimis, yang Menyelesaikan Siapa?

Dijuluki "Trump dari Negeri Tropis", Bolsonaro mengikuti sejumlah langkah kontroversial sang Presiden AS ketika virus corona merebak.

Selain meremehkan berbahayanya virus ini, Bolsonaro juga mengkritik langkah gubernurnya yang menerapkan karantina wilayah.

Kemudian seperti diberitakan AFP Sabtu (6/6/20200, dia juga menyerukan penggunaan obat klorokuin dan hidroksiklorokuin untuk melawan Covid-19.

Pekan lalu, Trump mengumumkan dia keluar dari WHO, setelah dia menuduh organisasi itu terlalu bias dengan China, berkaitan asal wabah Covid-19.

Dalam klaim Bolsonaro, klaim kompatriotnya itu menjadi kenyataan setelah beberapa hari kemudian, uji klinis hidroksiklorokuin ditangguhkan.

Organisasi yang berbasis di Jenewa itu menangguhkan uji klinis, setelah berbagai penelitian menunjukkan kekhawatiran terhadap efektivitas obat tersebut.

Halaman
12
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved