Breaking News:

Secara Teknis, MUI Sebut Aturan Salat Jumat Dua Gelombang Ganjil-Genap yang Dirilis DMI Sah-sah Saja

Ketua Bidang Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis menilai imbauan dari DMI soal salat Jumat tersebut merupakan bagian dari pengaturan beribadah saja.

Surya/Ahmad Zaimul Haq
Jemaah mengikuti Salat Jumat di Masjid Nasional Al Akbar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (20/3/2020). Meskipun tetap menggelar Salat Jumat di tengah wabah virus corona (Covid-19), Masjid Nasional Al Akbar Kota Surabaya menerapkan sejumlah prosedur yaitu pencucian tangan dengan hand sanitizer, pemeriksaan suhu badan, dan pemakaian masker serta pemberian jarak (social distancing) 1 meter tiap baris atau shaf jemaah. 

TRIBUPALU.COM - Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengeluarkan peraturan soal pelaksanaan salat jumat dalam dua gelombang ganjil-genap berdasarkan nomor handphone.

Menanggapi hal ini, Ketua Bidang Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis menilai imbauan dari DMI soal salat Jumat tersebut merupakan bagian dari pengaturan beribadah saja.

Dirinya mempersilakan masyarakat salat Jumat dua gelombang dengan sistem ganjil genap berbasis nomor ponsel tersebut.

"Ya bagian dari pengaturan. Mau ikutin fatwa model dua gelombang silakan," ujar Cholil kepada Tribunnews.com, Rabu (17/6/2020).

Terbitkan Aturan Salat Jumat Dua Gelombang Ganjil-Genap Menurut Nomor HP, DMI Ungkap Alasannya

Menuju New Normal, DMI Atur Salat Jumat 2 Gelombang Berdasarkan Ganjil Genap Nomor HP, Ini Caranya

Pelajar Ini Protes karena Server PPDB Eror, Ganjar Pranowo Justru Soroti Hal Ini: Gak Jadi Emosi Pak

Daftar Daerah di Indonesia yang Dilewati Gerhana Matahari Cincin pada 21 Juni 2020, Sulteng Dilewati

Meski begitu, Cholil meminta masyarakat lebih baik tetap melakukan salat jumat dengan satu gelombang.

Masyarakat, menurut Cholil dapat memanfaatkan ruangan selain masjid untuk salat Jumat.

Cholil menilai penggunaan nomor ponsel dalam menentukan jemaah yang bisa salat jumat justru dapat membuat kapasitas masjid menjadi berlebihan. Selain itu, Cholil menilai tidak semua orang memiliki ponsel.

"Karena mungkin tak semuanya orang punya satu nomor telepon. Kalau punya nomor telepon, lalu yang didaftarkan adalah daftar yang genap atau ganjil, akhirnya kan bisa overload," tutur Cholil.

Baginya, imbauan DMI tersebut sah-sah saja untuk dilaksanakan. Cholil mengatakan saat ini MUI sendiri masih memiliki dua pendapat terkait pelaksanaan salat Jumat secara bergelombang.

"Jadi silakan sebagai bagian dari tata cara, teknis. Sah-sah saja, MUI masih punya dua pendapat," pungkas Cholil.

Seperti diketahui, DMI menerbitkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan salat Jumat menjadi dua gelombang.

Berdasarkan Surat Edaran nomor 105-Khusus /PP-DMI/A/Vl/2020 itu diteken Ketua DMI Jusuf Kalla tersebut, salat dua gelombang diatur berdasarkan nomor telepon selular.

"Bagi masjid yang jemaahnya banyak dan sampai membludak ke jalan dianjurkan melaksanakan Shalat Jumat dalam dua gelombang atau shift, yaitu Gelombang Pertama pada pukul 12.00 dan Gelombang Kedua pada pukul 13.00," tulis surat edaran tersebut.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul DMI Keluarkan Aturan Salat Jumat Dua Gelombang Ganjil Genap, MUI: Sah-sah Saja
Penulis: Fahdi Fahlevi

Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved