Di Tengah Pandemi Covid-19, Singapura Dilanda Wabah Demam Berdarah
Sepanjang tahun ini, negara pulau kecil di Asia Tenggara dengan 5,7 juta penduduk ini telah mencatat lebih dari 26.000 kasus demam berdarah.
TRIBUNPALU.COM - Selain wabah virus corona, Singapura juga harus menghadapi meningkatnya risiko penyakit demam berdarah.
Sepanjang tahun ini, negara pulau kecil di Asia Tenggara dengan 5,7 juta penduduk ini telah mencatat lebih dari 26.000 kasus demam berdarah.
Angka ini jela melampaui rekor tahunan sebelumnya, yakni sekitar 22.000 sepanjang tahun 2013.
Dua puluh orang telah meninggal karena penyakit tersebut tahun ini, yang dapat menyebabkan demam ekstrim yang menyebabkan pendarahan internal dan syok.
Sebagai perbandingan, hanya 27 orang yang meninggal karena virus corona di negara kota itu dari lebih dari 56.000 infeksi.
Jenis baru penyakit ini, dikombinasikan dengan cuaca basah di luar musim dan penguncian/lockdown virus corona yang membuat lokasi konstruksi dan tempat berkembang biak nyamuk lainnya bermunculan, dipandang sebagai faktor di balik merebaknya wabah demam berdarah.
• BLT Subsidi Gaji Rp 600 Belum Cair Bagi Pekerja yang Pakai Rekening Bank Swasta, Ini Penjelasannya
• Jubir Satgas COVID-19: Tingkat Kesembuhan di Indonesia Lebih Tinggi dari Rata-rata Dunia
• Pro Kontra Pembukaan Kembali Bioskop di Tengah Pandemi Covid-19, Epidemiolog Khawatirkan Hal Ini
• Mengenal Happy Hypoxia pada Pasien Covid-19, Dokter: Gagal Nafas, tapi Terlihat Baik-baik Saja
Singapura pun telah melakukan pencegah tradisional seperti fogging, mendenda orang karena melanggar peraturan anti-nyamuk seperti meninggalkan pot tanaman yang penuh dengan genangan air, dan menerapkan teknik baru seperti proyek Wolbachia.
Sementara di laboratorium pemerintah, para ilmuwan membiakkan nyamuk pembawa bakteri yang bisa membuat nyamuk menjadi mandul, memisahkan kepompong jantan untuk dilepaskan di daerah yang paling parah terkena demam berdarah.
Nyamuk Wolbachia tidak dapat menularkan penyakit seperti demam berdarah, dan hanya nyamuk betina yang menggigit manusia.
Ketika nyamuk Wolbachia jantan kawin dengan betina yang tidak membawa bakteri tersebut, tidak ada telur yang dihasilkan yang akan menetas.
Strategi tersebut telah berhasil di Australia tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa strategi itu mungkin terbatas di daerah perkotaan yang padat seperti Singapura.
“Anda harus membanjiri pulau dengan nyamuk-nyamuk ini, dan orang-orang akan kesal,” kata Paul Tambyah, konsultan senior di Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura.
“Mereka tidak akan menangkap nyamuk itu dan memeriksa dan melihat apakah itu jantan atau betina. Mereka akan menyingkirkannya, dan hal semacam itu merusak tujuannya," katanya.
Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi
Artikel ini tayang di Kontan dengan judul Virus corona belum usai, kini Singapura menghadapi wabah demam berdarah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/nyamuk-aedes-aegypti-penyebab-demam-berdarah.jpg)