Breaking News:

BNPB Harapkan Pemprov Sulteng Tegas Terapkan Zona Merah Kawasan Rawan Bencana

Doni berharap agar pemetaan wilayah yang masuk dalam zona merah dapat mematuhi aturan untuk tidak mendirikan bangunan maupun kegiatan dan aktivitas la

Penulis: Imam Saputro | Editor: Imam Saputro
TRIBUNPALU.COM/Abdul Humul Faaiz
Kondisi terkini 9 bulan pasca likuifaksi di kawasan Perumnas Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/7/2019). (Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz) 

"Siklus gempa di Palu ini cuma satu generasi, cuma 25-30 tahun,” jelas Muhari.

Menurut catatan sejarah, peristiwa gempa dan tsunami sebelumnya pernah terjadi di Palu pada tahun 1927 dengan tinggi tsunami 15 meter dan menyebabkan 14 orang meninggal dunia.

Kemudian pada tahun 1968 gempa memicu tsunami setinggi 10 meter dan sedikitnya 200 orang meninggal dunia. Selanjutnya tsunami tahun1996 toli-toli dan terakhir tahun 2018 dengan tsunami setinggi 13 meter.

Melihat dari rentetan peristiwa tersebut, Muhari mengatakan bahwa catatan tersebut hendaknya dapat dijadikan pelajaran dan pengetahuan bagi generasi penerus.

Sehingga kejadian tersebut dapat lebih diantisipasi dan kerugian serta korban jiwa dapat diminimalisir.

"Kalau ini hilang pengetahuannya maka generasi mendatang akan mengalami hal yang sama,” kata Muhari.

Covid-19

Terkait penanggulangan covid-19, Doni meminta masyarakat tetap patuhi protokol kesehatan dimanapun tempatnya, baik di huntap, pasar, ataupun di tempat wisata.

Doni Monardo mengatakan, fakta tingkat kepatuhan masyarakat Sulteng memakai masker baru 78% dan kepatuhan jaga jarak 75%.

Kurang patuhnya masyarakat memakai masker banyak ditemukan di tempat-tempat publik seperti perumahan, restoran, pasar dan pusat wisata sedangkan jaga jarak banyak terjadi di tempat olahraga.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved