Breaking News:

Keakuratan Rapid Test Deteksi Covid-19 Dipertanyakan, Simak Penjelasan Ahli Soal Rapid Tes & PCR

Misalnya, Anda mendapati hasil rapid test di klinik A ternyata reaktif, kemudian mencoba di klinik B ternyata hasilnya non-reaktif.

Dokumentasi Humas Polda Jatim
rapid test on the spot pengunjung kafe di Surabaya, Senin (13/4/2020) malam 

Bahkan, dr. Tonang merasa, pemerintah pun tidak luput dari salah kaprah. Diberlakukan syarat perjalanan, yakni harus PCR atau rapid. Di mana, apabila sudah dinyatakan negatif atau non-reaktif, masyarakat baru diperbolehan melakukan perjalanan.

"Jadilah makin salah kaprah. Untuk dapat terbang, dicari-cari oleh orang-orang agar tetap negatif atau non reaktif," kata dia.

dr. Tonang bahkan pernah mendapati, beberapa kali terjadi, ada orang yang sebenarnya memiliki hasil PCR positif, sengaja tes antibodi dan ternyata masih non-reaktif. Jadilah orang tersebut boleh terbang.

Begitu juga sebaliknya, ada orang yang hasil tes antibodi reaktif, terpaksa PCR dan hasilnya negatif, kemudian bisa terbang.

Lantas, kenapa hasilnya bisa berbeda seperti itu? Padahal jika tes antibodi seharusnya tidak akan berubah hasilnya hanya dalam 1-2 hari.

"Itulah, ada satu episode, bahkan merek alat rapid test sekarang tersedia 100 lebih. Semua mendapatkan rekomendasi dari lembaga yang diberi kewenangan saat itu. Entah bagaimana memastikan baku mutunya. Baru tanggal 16 Juli 2020, rekomendasi itu semua dicabut, dan dikembalikan ke alur normal. Tapi, siapa yang bisa memastikan di lapangan?" kata dia.

dr. Tonang menilai, sampai sekarang salah kaprah ini masih berlanjut. Di mana, orang menggunakan tes antibodi sebagai tes untuk menemukan orang yang berpotensi menularkan virus corona.

Bahkan, lembaga pemerintah pun melakukan yang sama. Padahal hasil tes antibodi, sekali lagi, tidak tepat untuk menilai risiko penularan.

Untuk menilai risiko penularan, seharusnya menggunakan PCR, atau minimal tes antigen.

"Sekarang semakin banyak tempat untuk periksa PCR. Kalaupun tidak, sudah mulai ada tes antigen. Jadi sebaiknya, tidak lagi mendasarkan pada tes antibodi kalau tujuannnya mencari yang berisiko menularkan Covid-19," jelas dia.

Akibat salah kaprah ini, kata dr. Tonang, sekarang orang-orang mulai protes, misalnya hasil rapid test reaktif kok harus disuruh isolasi, tidak boleh bertugas, tidak boleh masuk kerja, tidak boleh bersosialisasi dan lain sebagainya.

Entah bagaimana, dia menjadi mengkhawatirkan, ada banyak orang yang pada akhirnya melaporkan dirinya ternyata non-reaktif dan menjelaskan hasil rapid test sebelumnya keliru.

Padahal, mau reakti atau tidak, sebenarnya belum langsung jelas menunjukkan risiko penularannya.

"Jadilah tujuan sebenarnya tidak jelas tercapainya, tapi kita terjebak 'yang penting tidak reaktif'. Tambah parah jadinya salah kaprah kita. Jadi, Mari kita sudahi salah kaprah ini," ungkap dia. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Anggap Rapid Test Tidak Akurat Deteksi Covid-19? Sebaiknya Simak Penjelasan Ahli Berikut

Editor: Imam Saputro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved