Imlek 2021

Sejarah Vihara Magabudhi Palu: Tertua di Sulawesi Tengah, Paling Ramai Setiap Imlek

Klenteng Kwan Im Miau adalah nama tempat ibadah ini sejak pertama kali dibangun pada tahun 1942

Editor: Haqir Muhakir
TRIBUBPALU.COM/NUR SALEHA
Suasana Viara Magabudhi Palu persiapan menyambut tahun baru Imlek 2021, Senin (8/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Nur Saleha

TRIBUNPALU.COM, PALU - Perayaan tahun baru Imlek 2021 tinggal menghitung hari.

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah sejumlah vihara dan klenteng mulai berbenah, termasuk Vihara Magabudhi Palu.

Vihara Magabudhi Palu berada di Jl Gajah Mada nomor 160 Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Vihara Magabudhi adalah vihara tertua di Sulawesi Tengah.

Vihara inijuga dikenal dengan nama "Klenteng Kwan Im Miau".

Klenteng Kwan Im Miau adalah nama tempat ibadah ini sejak pertama kali dibangun pada tahun 1942.

Link Streaming Ikatan Cinta 8 Februari 2021 Aldebaran Terpesona dengan Andin, Kapan Tinggal Serumah?

VIDEO: Penampakan Bangunan Baru SDN Poboya Palu Setelah Terima Bantuan Dana dari NGO Turki

Pendaftaran CPNS 2021 di Sulawesi Tengah Bakal Dibuka, Ini Posisi yang Dibutuhkan

Rekor Data Covid-19 per Senin 8 Februari 2021: Angka Kesembuhan Tertinggi, 13.038 Orang dalam 24 Jam

Kata "Kwan Im" dari nama Budha perempuan bisa menjelma menjadi laki-laki, dan kata "Miau" arti dari klenteng dalam bahasa Tionghoa.

Sekitar tahun 70an, Klenteng Kwan Im Miau berubah nama menjadi Vihara Magabudhi Palu.

Vihara adalah tempat ibadah bagi umat Buddha.

Sedangkan kelenteng adalah tempat ibadah bagi penganut tiga agama (Tridharma), yaitu Konghuchu, Taoisme, dan Buddha.

TribunPalu.com berkesempatan mengunjungi Vihara Magabudhi Palu, Senin (8/2/2021) siang.

Kala itu, pengurus vihara sedang beberes untuk persiapan menyambut hari raya Imlek 2021.

Vihara ini berlokasi di Jalan Gajah Mada Kota Palu.

Rekor Data Covid-19 per Senin 8 Februari 2021: Angka Kesembuhan Tertinggi, 13.038 Orang dalam 24 Jam

Ombudsman RI Luncurkan Laporan Tahunan 2020, Wagub Sulteng Hadir

Ramalan Mingguan Pisces: Hati-hati Stres karena Pekerjaan, jika Agresif Hubunganmu Bisa Kandas

Posisinya berada di dalam lorong kecil, samping Rafika Foto.

Berjarak sekitar 750 meter dari Tugu Nol Jl Hasanudin Kota Palu.

Phan A Lin adalah orang yang mendirikan tempat ibadah ini pada tahun 1942.

Dia adalah orang asli kelahiran Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

"Awal dibangun klenteng ini untuk tempat ibadah keluarga, kemudian dijadikan tempat ibadah umum untuk masyarakat yang percaya agama Budha," jelas Kusnadi Lukisna, pengurus Vihara Magabudhi Palu.

Meski sudah berumur 79 tahun, terlihat bangunannya masih kokoh dan tertata rapi.

Selain itu, vihara ini memiliki beberapa patung Budha.

Patung Budha itu terdiri dari: Patung Dewi Kwan Im, Sheng Wang Gong, Guan Gong, Mi Le Fo, San Bao Gong, Sang Budha, Di Ye Gong, Su Zhi Gong, Wie Too Poo Sat, dan Patung Budha Thailand Sidata Gautama.

Tak hanya itu, Cham-Si Guan Yin atau kertas sembahyang dan patung-patung sembahyang juga tersimpan rapi di dalam lemari kaca.

Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 9 Februari 2021: 20 Provinsi Ini Waspadai Terjadi Cuaca Ekstrem

Ramalan Zodiak Cinta Jomblo Selasa 8 Februari 2021:Virgo jadi Pusat Perhatian, Libra Sedang Insecure

Hindari Kluster Pendidikan, Pembelajaran dan Pendaftaran SMA Sederajat Tahun 2021 Masih Daring

Vihara yang sering disebut masyarakat adalah klenteng menjadi pusat kegiatan perayaan imlek teramai setiap tahunnya.

Vihara ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang ingin beribadah, tapi semenjak pandemi Covid-19 pengunjung dikurangi.

Nuansa tersaji identik dengan warna merah dan emas, patung Dewi Kwan Im dihiasi bunga yang tergantung kertas angpao dan lampion berukuran mini, bau-bau dari dupapun sangat khas di vihara Magabudhi.

Warna merah adalah ciri khas dari klenteng, dan dipercayai sebagai hal mendatangkan rezeki dan hal baik lainnya.

Terdapat lilin sembahyang, ukuran 1,5 m dan lingakaran lilin sekitar 30 cm dengan harga sepasang yaitu puluhan juta rupiah, dikirim langsung dari Surabaya.

Dalam kepengurusan klenteng ini, terdapat lima orang panitia, dan setiap tahun melakukan pergantian anggota.

Klenteng ini dijaga Amir selama 30 tahun hingga sekarang.(*)

Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved