Breaking News:

Sulteng Hari Ini

Gesit, Gerakan Pemuda Sigi Hentikan Tawuran Jadi Bersih-bersih Masjid

Mayoritas anggota Gesit berasal dari pemuda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mencakup Kecamatan Dolo, Dolo Barat dan Dolo Selatan.

handover
Gerakan Sigi Bersatu (Gesit) aktif dalam kegiatan sosial beberapa pekan terakhir. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Gerakan Sigi Bersatu (Gesit) aktif dalam kegiatan sosial beberapa pekan terakhir.

Komunitas yang berdiri sejak 2019 itu kini beranggotakan 400 orang.

Mayoritas anggota Gesit berasal dari pemuda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mencakup Kecamatan Dolo, Dolo Barat dan Dolo Selatan.

Gesit merupakan komunitas peduli persoalan sosial, termasuk terlibat dalam meredam konflik pelajar dan pemuda.

Komunitas ini terbentuk atas keprihatinan pemuda dengan maraknya tawuran di Sigi.

Gesit meranggul pemuda Sigi untuk mengeluarkan energi untuk hal bermanfaat bagi orang banyak.

Termasuk membersihkan musala dan masjid di Kabupaten Sigi.

Baca juga: Sempat Dilaporkan Hilang Dua Hari, Nelayan di Buol Ditemukan Selamat di Kabupaten Tolitoli

Baca juga: Target jadi Daerah Religius, Pemkab Sigi Resmikan Rumah Quran di Kalukubula

Baca juga: MAU Listrik Gratis Bulan Maret 2021? Berikut 2 Cara Mudah untuk Mendapatkannya

Mayoritas anggota Gesit berasal dari pemuda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mencakup Kecamatan Dolo, Dolo Barat dan Dolo Selatan.
Mayoritas anggota Gesit berasal dari pemuda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mencakup Kecamatan Dolo, Dolo Barat dan Dolo Selatan. (handover)

Ketua Gesit Sofyan Amruddani menyebutkan, pihaknya mendorong pemuda memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal positif.

"Di daerah Sigi itu rentan terjadi tawuran walaupun karena masalah sepeleh. Maka kami merangkul mereka semua. Saat ini banyak anak muda tertarik ikut dalam kegiatan yang kami lakukan, seperti bersih-bersih musala dan masjid," ucap Sofyan, Sabtu (6/3/2021).

Dia menambahkan, Gesit juga terjun dalam kegiatan kemanusiaan di berbagai daerah.

Terakhir, bencana alam di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu.

Gesit bersama komunitas pemuda Sigi lainnya bergotong-royong mengumpulkan dana dan menyalurkan bantuan kepada korban bencana.

"Saat bencana lalu, tiap-tiap anggota Gesit menyumbang untuk korban bencana. Adapun penyalurannya kami bekerja sama dengan komunitas lain," ujar Sofyan.

Gerakan anti-kekerasan, kata Sofyan, perlu dikampanyekan untuk menumbuhkan kesadaran anak muda dan pelajar tentang pentingnya peran mereka bagi masa depan daerah dan bangsa.(*)

Penulis: fandy ahmat
Editor: mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved