Breaking News:

Sulteng Hari Ini

SPAG Lore Lindu Bariri Perkirakan Perubahan Iklim: Kehidupan Nelayan di Sulteng Terancam

Asep Firman Ilahi memperkirakan perubahan iklim dan siklus air global akan berdampak pada Sulawesi Tengah (Sulteng). 

handover
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi memperkirakan Perubahan iklim dan siklus air global akan berdampak pada Sulawesi Tengah (Sulteng)

Fenomena tersebut, kata dia, akan mempengaruhi ekosistem laut khususnya terumbu karang. 

"Perubahan iklim ini akan menyebabkan rusaknya terumbu karang. Tentu ini akan mengurangi hasil tangkap ikan. Apalagi masyarakat banyak menggantungkan hidup dari kegiatan nelayan," ujar Asep, Minggu (18/4/2021). 

Baca juga: Puluhan Warga Ikut Buka Puasa Bersama di Kawasan Religi Sis Aljufri Palu

Baca juga: Ini Daftar Hotel dan Homestay di Kota Palu Bebas Covid-19, Dilengkapi Sertifikat CHSE

Asep menuturkan, pihaknya terus memantau kondisi cuaca di Sulawesi Tengah

Dari hasil pemantauan, diketahui kondisi cuaca saat ini kerap berubah dan sulit diprediksi. 

Terlebih kata dia, fenomena La Nina diperkirakan akan terus berlangsung hingga Mei 2021.

Artinya, anomali cuaca berupa peningkatan curah hujan masih terjadi di Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah

"Faktor lingkungan sangat mendominasi tipe hujan. Untuk Sulawesi Tengah, di sisi utara pola hujannya monsunal, tengah-selatan pola lokal dan timur dipengaruhi pola ekuatorial. Dari semua itu, tipe lokal yang sulit diprediksi," jelas Asep. 

Baca juga: Persimpangan Jl Gajah Madah - Teuku Umar Kota Palu Macet Jelang Buka Puasa 

Baca juga: DPRD Palu Harap Pasar Ramadan Petobo Pulihkan Ekonomi Penyintas Gempa dan Likuefaksi

Baca juga: BMC Peduli Salurkan 27 Paket Sembako di TPA Kawatuna Palu

Asep mengatakan, perubahan iklim juga penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang berlebihan. 

Kegiatan-kegiatan tersebut menghasilkan gas-gas rumah kaca kemudian menyelimuti bumi sehingga semakin panas.

"Selain pemanasan global, perubahan iklim juga beranjak dari konsumsi bahan bakar fosil secara berlebihan. Sejak revolusi industri, aktivitas manusia sudah tergantung pada mesin. Dan mesin-mesin ini tentu menggunakan BBM," ucap Asep. (*) 

Penulis: fandy ahmat
Editor: Putri Safitri
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved