Breaking News:

Ramai Kabar BMKG Menyatakan 1 Syawal 1442 H Jatuh Pada 12 Mei 2021, Ini Penjelasan Resmi BMKG

Santer beredar kabar  BMKG  menyebut 1 Syawal jatuh pada 12 Mei 2021, benarkah informasi tersebut? 

TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
Pengurus Nahdatul Ulama saat memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013), untuk memutuskan awal Ramadhan 1434 H. 

TRIBUNPALU.COM - Santer beredar kabar  BMKG  menyebut 1 Syawal jatuh pada 12 Mei 2021, benarkah informasi tersebut? 

BMKG melalui keterangan tertulis yang diterima TribunPalu.com mengklarifikasi bahwa BMKG tidak pernah menyatakan kapan tanggal 1 Syawal 1442 H akan terjadi (jatuh tanggal berapa).

Karena penetapan tanggal 1 Syawal 1442 H adalah kewenangan Kementerian Agama RI yang akan disampaikan melalui sidang Isbat yang rencananya akan digelar pada 11 Mei 2021 malam ini.

BMKG dalam rangka mendukung penetapan awal bulan Syawal 1442 H, di samping release hasil perhitungan, BMKG melaksanakan pengamatan selama 2 (dua) hari yaitu tanggl 11-12 Mei 2021 pada waktu sore hingga malam hari.

"Seperti release yang sudah disampaikan oleh BMKG bahwa pengamatan tanggal 11 Mei 2021 pada sore hingga malam hari tidak mungkin hilal terlihat karena konjungsi/ijtimak hilal belum terjadi dan ketinggian hilal masih negatif (minus)," tulis BMKG dalam keterangannya yang ditandatangani oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono. 

Kemudian potensi terlihatnya hilal pada pengamatan hilal tanggal 12 Mei 2021 antara sedang-besar.

Perlu ditegaskan bahwa pengamatan hilal selalu dilakukan sore hingga malam hari, demikian juga pengamatan tanggal 12 Mei 2021, juga dilaksanakan pada sore hingga malam hari.

 Adapun proses/mekanisme pengamatan (rukyat Hilal) oleh BMKG sebagai mendukung penentuan awal bulan Qomariah (Hijriyah) adalah bahwa pengamatan dimulai 3 (tiga) jam sebelum matahari terbenam (maghrib/sore hari) sampai dengan dengan 30 menit setelah bulan terbenam (malam hari setelah maghrib), dengan memanfaatkan teleskop yang dihubungkan dengan komputer dan kamera serta dipadukan dengan teknologi informasi.

Saat pengamatan dilaksanakan, kecerlangan cahaya Hilal akan direkam oleh detektor yang dipasang pada teleskop yang secara otomatis mengikuti berubahnya posisi Bulan di ufuk Barat.

Dengan teknologi informasi, data tersebut langsung dikirim ke server di BMKG Pusat, untuk kemudian disimpan dan disebarluaskan kepada masyarakat secara online (live streaming) ke seluruh dunia melalui http://www.bmkg.go.id/hilal.

Halaman
1234
Penulis: Imam Saputro
Editor: Imam Saputro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved