Breaking News:

Apa Itu Sadfishing? Kenali Istilah Kebiasaan yang Tak Disadari saat Menggunakan Media Sosial Ini

Hampir setiap pengguna media sosial menginginkan sebuah perhatian dari para pengikutnya. Sehingga ketika mereka sedang bersedih, banyak dukungannya.

Penulis: Rahman Hakim | Editor: Ananda Putri Octaviani
Shutterstock
FOTO ILUSTRASI: Membagikan cerita di media sosial 

TRIBUNPALU.COM - Tanpa disadari, hampir setiap pengguna media sosial melakukan sadfishing.

Istilah ini mungkin tak banyak diketahui banyak orang, namun perilaku dari sadfishing sendiri bisa dikatakan sebagai hal yang kerap dijumpai di media sosial.

Lantas sebenarnya, apa itu sadfishing?

Diketahui, tak sedikit pengguna media sosial menginginkan sebuah perhatian dari para pengikutnya.

Sehingga ketika mereka sedang bersedih, banyak dukungan yang didapat dari media sosial miliknya.

Banyak kalangan yang melakukan hal demikian, mulai dari anak-anak, remaja bahkan juga orang tua.

Bahkan di kalangan remaja ditemui lebih banyak cerita yang dibagikan di media sosial mereka, entah itu sedang senang ataupun sedih.

Namun mereka memfilter sedemikian rupa agar bisa mengambil perhatian para pengguna media sosial.

Hal inilah yang disebut sebagai sadfishing.

Baca juga: Hukum Mengumbar Masalah di Media Sosial Menurut Ajaran Islam, Berdosakah?

Baca juga: Gangguan Mental Dapat Picu Long Covid, Ini Penjelasan Dokter

Berikut ini TribunPalu jelaskan yang telah kami kutip dari laman Newport Academy.

Pengertian Sadfishing di Media Sosial

Sadfishing adalah sebuah keadaan dimana seseorang menampilkan rasa emosionalnya di media sosial untuk menarik perhatian dan simpati orang lain.

Hal ini sudah menjadi lumrah di kalangan pengguna media sosial, terutama remaja.

Para remaja terkesan memiliki lebih banyak cerita yang ingin dibagikannya di sosial media, baik itu cerita sedih atau bahagia.

Selama pandemi Covid-19, telah terbukti penggunaan sosial media meningkat yang diimbangi dengan level kecemasan seseorang.

Sehingga hal tersebut juga mempengaruhi seseorang dalam melakukan sadfishing.

Dengan berbagai filter yang telah dilakukan poengguja media sosial mengakibatkan konten yang disuguhkan seakan sangat menyedot perhatian.

Meskipun konten yang diunggah merupakan luapan dari emosi penggunanya, para ahli mengatakan tidak mudah untuk membedakan mana yang asli dan dibuat-buat.

Baca juga: Apa Itu Kesehatan Mental? Berikut Penjelasan dan Tips Memahami Kondisi Mental Seseorang

Sadfishing ini cenderung kepada pengguna media sosial yang memancing reaksi seperti komentar, like dan share dari pengguna lain untuk bersimpati kepada cerita sedihnya.

Tak hanya pengguna sosial seperti masyarakat saja yang melakukan sadfishing, bahkan para selebritis juga melakukan hal yang sama.

Bahkan dengan jumlah pengikut yang tidak sedikit, para selebritis mampu menghipnotis pengguna media sosial dengan aksi sedih yang mengundang simpati.

Hubungan Antara Sadfishing, Media Sosial dan Kesehatan Mental

Kebanyakan pengguna media sosial adalah kalangan remaja dan dewasa awal.

Mereka melakukan sadfishing lebih kerap dibandingkan usia lainnya.

Bahkan bisa dikatakan mereka yang sering melakukan hal serupa di media sosial benar-benar mengalami emosi yang sulit.

Tak jarang mereka sedang berada pada fase kesehatan mental yang buruk.

Salah satu gangguan mental terkait sadfishing adalah Histrionic Personality Disorder, yakni sebuah perilaku seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Baca juga: Melawan Stigma Kesehatan Mental, Psikolog: Stop Judging, Start Supporting

Ilustrasi dari manfaat berbicara sendiri menurut psikolog
Ilustrasi dari manfaat berbicara sendiri menurut psikolog (freepik.com)

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Digital Awareness UK, perilaku sadfishing ini benar-benar mempersulit seseorang dalam menghadapi tantangan kesehatan mental.

Hasil penelitian lain menunjukkan apabila terlalu lama menghabiskan waktu menggunakan aplikasi media sosial akan menurunkan suasana hati seseorang.

Tak hanya itu, ternyata penggunaan yang terlalu sering juga meningkatkan level depresi dan kecemasan.

Cara Mengelola Emosi dengan Baik

Dilansir dari laman Healtline, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari pengelolaan emosi yang salah.

Apalagi jika sampai diumbar di media sosial yang justru akan menyebarkan dampak buruk kepada orang lain.

1. Memaafkan orang lain

Menjadi suatu kewajaran ketika merasa kecewa dan marah kepada seseorang.

Namun, terlalu larut dalam kekecewaan hanya membuang waktu saja. Lebih baik berdamai dengan keadaan dan memaafkan apa yang telah terjadi.

Setelah itu baru bisa fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan.

Ternyata memaafkan bisa memberi kita berbagai manfaat.

Seperti mengurangi stres dan rasa marah, meningkatkan kasih sayang, menumbuhkan empati dan menumbuhkan hubungan interpersonal yang lebih kuat.

Baca juga: Kenali Istilah Top Post Hashtag di Instagram, Ketahui Juga Cara Untuk Mendapatkannya

2. Berpikir positif

Sikap positif memang tidak bisa menyelesaikan masalah tetapi membantu kita untuk menyeimbangkan emosi.

Untuk menanamkan pikiran positif dalam diri, cobalah untuk fokus pada keberhasilan yang telah kita raih, menertawakan kesalahan , mengingatkan disi sendiri bahwa kita selalu bisa mencoba lagi dan membangun diri dengan self talk positif.

Cara ini memang terasa aneh tetapi jika dilakukan secara rutin, maka kita akan merasakan manfaatnya.

3. Journaling

Menulis jurnal Menulis jurnal adalah cara yang bagus untuk memilah-milah dan menerima emosi yang hadir.

Ketika kita melakukan kesalahan, kita mungkin mengalami banyak prasaan rumit dan kekecewaan.

Perasaan-perasaan tersebut bisa mempengaruhi diri kita. Dengan menuliskan perasaan tersebut, akan membatu kita untuk merasa lega.

Pasalnya, menuliskan emosi yang kita rasakan merupakan salah satu bentuk katarsis yang bisa membersihkan pikiran kita.

Cobalah untuk melakukannya selama lima menit sehari.

Tuliskan apapun yang terlintas di pikiran kita tanpa mempedulikan bahasa atau gaya tulisan yang kita gunakan.

Baca juga: 3 Langkah Tambah Jumlah Followers di Instagram,Tanpa Harus Beli: Bikin Konten Viral hingga Interaksi

Baca juga: Konten Jualan di Instagram Auto Laris dengan Headline Menarik, Catat Cara Menulisnya

4. Bercerita pada orang terdekat

Memendam emosi negatif hanya akan memperburuk keadaan dan membuatnya meledak di kemudian hari.

Emosi negatif yang terus dipendam hanya akan mendatangkan masalah lain.

Misalnya perubahan suasana hati, tekanan emosional bahkan gangguan fisik seperti sakit kepala atau ketegangan otot.

Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya kita menceritakan apa yang kita rasakan pada orang terpecaya.

Menceritakan apa yang kita rasakan akan membantu kita merasa lebih baik.

Kita juga bisa mendapatkan dukungan sosial dan emosional dengan menceritakannya kepada orang terdekat.

(TribunPalu.com/Hakim)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved