Breaking News:

Israel Punya Perdana Menteri Baru, Dikenal Religius dan Penentang Keras Kemerdekaan Palestina

Israel resmi memiliki perdana menteri baru setelah 12 tahun masa kepemimpinan Benjamin Netanhayu.

Editor: Muh Ruliansyah
Handover
Naftali Bennett resmi menjadi Perdana Menteri Israel. 

Bennett, seorang Yahudi Ortodoks modern, akan menjadi perdana menteri pertama Israel yang secara teratur mengenakan kippa, kopiah yang biasa dikenakan oleh orang-orang Yahudi yang taat.

Dia tinggal di pinggiran kota Tel Aviv yang mewah di Raanana.

Bennett memulai kehidupan dengan orang tuanya yang lahir di Amerika di Haifa.

Ia kemudian pindah bersama keluarganya antara Amerika Utara dan Israel, dinas militer, sekolah hukum, dan sektor swasta.

Secara keseluruhan, ia memiliki citra modern, religius, dan nasionalis.

Setelah bertugas di unit komando elit Sayeret Matkal, Bennett melanjutkan ke sekolah hukum di Universitas Ibrani.

Baca juga: Tips Kesehatan: Manfaat Mengonsumsi Telur Rebus, Gizi yang Cukup hingga Bisa Kurangi Risiko Katarak

Baca juga: Rusli Pamit Dari Wagub Sulteng Setelah 23 Bulan Temani Longki, Ini Pesannya

Baca juga: Update Daftar Harga Smartphone OPPO Terbaru Juni 2021: OPPO A11k Dibanderol Rp 1,5 Jutaan

Pada tahun 1999, ia ikut mendirikan Cyota, sebuah perusahaan perangkat lunak anti-penipuan.

Perusahaan itu dijual pada tahun 2005 ke RSA Security yang berbasis di AS seharga $145 juta.

Bennett mengatakan pengalaman pahit perang Israel 2006 melawan kelompok militan Lebanon Hizbullah mendorongnya ke politik.

Perang selama sebulan berakhir dengan tidak meyakinkan, dan kepemimpinan militer dan politik Israel pada saat itu dikritik karena ceroboh dalam kampanye.

Bennett mewakili generasi ketiga pemimpin Israel, setelah para pendiri negara dan generasi Netanyahu.

"Dia adalah Israel 3.0," tulis Anshel Pfeffer, seorang kolumnis untuk surat kabar Haaretz yang berhaluan kiri, dalam profil Bennett baru-baru ini.

"Seorang nasionalis Yahudi tetapi tidak terlalu dogmatis."

"Sedikit religius, tapi tentu saja tidak taat."

"Seorang pria militer yang lebih menyukai kenyamanan kehidupan perkotaan sipil dan pengusaha teknologi tinggi yang tidak lagi ingin menghasilkan jutaan."

"Seorang pendukung Tanah Besar Israel tetapi bukan pemukim."

"Dan dia mungkin juga bukan politisi abadi."

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved