Breaking News:

OPINI

Ganjar-Puan vis a vis Jaka Tingkir-Pangeran Timur, Belajar dari Sejarah Sebagai Kaca Benggala

Belajarlah dari sejarah. Dan jadikan sejarah sebagai "Kaca Benggala" kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Editor: Putri Safitri
Kolase TribunKaltara.com / Kompas.com/Riska Farasonalia
Ganjar - Puan 

Maka, andai saja, kelak terjadi persaingan dalam "rumah politik lama", toh bisa pindah ke "rumah politik baru".

Rakyat bukan melihat kemegahan "rumah politik". Buat apa rumah politik lama, kalau isinya hanya dihuni banyak pecundang.

Buat apa rumah lama kalau di dalamnya hanya kisruh dan diisi oleh tokoh-tokoh yang teruji buruk dalam realitas kepemimpinannya dalam politik apalagi untuk rakyat.

Maka, untuk "darah baru" pemimpin baru, maka perlu "Giri Kedaton" sebagai istana politik lahirnya pemimpin politik harapan rakyat.

Saat ini rakyat butuh pemimpin egaliter, sebagaimana egaliternya Jaka Tingkir dalam meruntuhkan ego politik Sultan Demak dalam kasus "Kebo Ndanu".

Seorang pemimpin tdk selamanya menunjukkan power "keangkuhan"nya, malainkan memiliki sense of bilonging dlm menyelesaikan setiap persoalan dan itu harus ada bukti.

Jaka Tingkir mampu menuntaskan kebo Ndanu. Ia mampu menyelesaikan carut marut keamanan Demak di detik-detik akhir keruntuhannya.

Ganjar Pranowo terbukti meruntuhkan "keningratan" Jembatan Timbang yang tiap saat perlu disetor "upeti" untuk melicinkan setiap tujuan kotor.

Ganjar pun menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yg tak segan menegur anak buahnya, baik secara halus maupun kasar.

Bahkan tanpa merendahkan harga diri kemanusiaan anak buahnya tersebut, ganjar sudah membuktikannya.

Jaka Tingkir begitu cepat merespon apa yang menjadi kehendak para Wali sebagai tangan panjang aspirasi masyarakat.

Demikian halnya Ganjar.

Ia dengan cepat merespon apa yang menjadi keluhan rakyatnya.

Dan hal itu terbukti ketika laporan adanya kelambanan pembangunan sebuah jembatan vital di daerah Jatiyoso Karanganyar.

Terbukti, melalui respon cepat, maka dipercepatlah penyelesaian salah satu jembatan di daerah Jatiyoso, tepat di depan KUA Jatiyoso yg saat itu pembangunannya lamban.

Soal Jaka Tingkir yg bukan "Trah" atau Putra Mahkota.

Yang dia hanya menantu, bukan menjadi soal manakala kesiapannya menjadi seorang Pemimpin telah terbukti NYATA.

Bukan hanya sebagai syarat saja.

Pangeran Timur baru memenuhi syarat sebagai penerima estafet kepemimpinan. Namun ia blm punya bukti dan jam terbang tinggi sebagai calon pemimpin.

Demikian halnya Puan Maharani. Ia pewaris sah tahta PDIP yang layak meneruskan "Trah" kepemimpinan Sukarno.

Namun ia belum memiliki Pengalaman riil sebagai calon pemimpin negara.

Bahkan dibandingkan dengan Tri Risma Harini saja, ia masih kalah jauh.

Puan masih perlu banyak belajar untuk menjadi pemimpin yg "momong" bukan pemimpin yg "tangan besi" dan egois.

Usianya masih muda. Maka seyogyanya ia legowo seperto legowonya Pangeran Timur putra Sultan Trenggono, yg cukup menerima diangkat sebagai Adipati Madiun Pertama.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat.

Sekaligus menjadi "Kaca Benggala" bagi para elit politik.

Bacalah realitas politik. Jiwa kepemimpinan itu tak bisa diciptakan "Singkat" semalam atau dengan Sim Salabim.

Namun butuh waktu panjang serta pandai mempergunakan segala media yang dapat dipakai berkomunikasi dengan rakyatnya.

Kekuatan "Trah" tak cukup sebagai modal.

Melainkan kekuatan "kebatinan" juga sangat diperlukan.

Seperti halnya Jaka Tingkir. Gemblengan ritual dan olah batin layaknya menjadi Roh kehidupan. Ia pernah menjadi rakyat desa.

Pangeran Timur blm sekalipun merasakannya karena sejak kecil hidupnya hanya dibalik tembok Istana.

Ganjar, masa kecilnya dalam penderitaan. Berpindah rumah karena "terusir" oleh keadaan yg memaksa keluarganya.

Sementara Puan Maharani, dari kecil hingga Dewasa belum pernah merasakan pahit getirnya sebagai rakyat.

Meski ia senantiasa meneriakkan slogan membela "Wong Cilik" nyatanya mematikan Microfon saat banyak suara jeritan menyampaikan aspirasi dan Diam bahkan acuh atas kenaikan harga BBM dan harga-harga kebutuhan pokok untuk rakyat.

Marilah cerita yang ditulis pada Senin Dini hari pukul 02.08 ini menjadi bahan pertimbangan bersama, bagi Masa Depan Negeri ini, agar jangan kita salah pilih.

Belajarlah dari sejarah. Dan jadikan sejarah sebagai "Kaca Benggala" kehidupan berbangsa dan bertanah air.(*)

Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved