Breaking News:

Bareskrim Mabes Polri Bebaskan dr Lois Owien, Akui Pendapatnya Hanya Opini Tanpa Landasan Riset

Dokter Lois Owien ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penyebaran berita bohong terkait virus corona. Namun demikian, polisi tidak menahannya

Editor: Putri Safitri
(Tribunnews.com/ Reza Deni)
Dokter Lois Owien saat keluar dari ruang penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Senin (12/7/2021) pukul 18.58 WIB. 

Pendapat-pendapatnya dimana ia tidak percaya COVID-19 sudah ia posting sejak tahun lalu.

2. Sebut Kematian Karena Interaksi Obat

Di sebuah acara talkshow, ia menyebut bahwa selain tak percaya COVID-19, dr Lois Owien juga menyebut kematian banyak orang pasien positif Covid belakangan ini bukan lantaran infeksi virus corona penyebab COVID-19 melainkan akibat interaksi obat yang berlebihan.

Dia menyebut bahwa obat-obatan yang digunakan untuk pasien COVID-19 telah menimbulkan komplikasi di dalam tubuh.

Pernyataannya inipun mendapat tanggapan dari Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.

Prof Zullies menjelaskan bahwa interaksi obat adalah adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain, ketika digunakan bersama-sama pada seorang pasien.

"Interaksi obat itu memang sangat mungkin dijumpai. Bahkan, orang dengan satu penyakit saja, rata-rata ada yang membutuhkan lebih dari satu macam obat," kata Prof Zullies.

Dokter Lois dan Prof Dr Zullies Ikawati (dok.istimewa/ kolase Tribun Jogja)
Terkait pernyataan dr Lois yang menyebut interaksi obat menjadi penyebab kematian pasien COVID-19, Prof Zullies menekankan bahwa tidak semua interaksi obat itu berbahaya atau merugikan.

Karena sifat interaksi itu bisa bersifat sinergis atau antagonis, bisa meningkatkan, atau mengurangi efek obat lain.

"Interaksi obat juga ada yang menguntungkan, dan ada yang merugikan. Jadi tidak bisa digeneralisir, dan harus dikaji secara individual," ucap Prof Zullies.

Kapan interaksi obat bisa merugikan?

Lebih lanjut, Prof Zullies mengatakan interaksi obat dapat merugikan apabila suatu obat menyebabkan obat lain tidak berefek saat digunakan bersama, atau memiliki efek samping yang sama.

Seperti obat hidroksiklorokuin yang sempat diajukan sebagai terapi pengobatan pasien COVID-19.

Efek samping obat ini dapat memengaruhi ritme jantung, jika digunakan dan dikombinasikan dengan obat yang juga sama-sama memiliki efek serupa, maka itu akan merugikan.

"Ada juga obat yang memberi interaksi dengan meningkatkan efek dari obat lain. Itu bagus, tetapi kalau peningkatan efeknya berlebihan, maka itu akan berbahaya," imbuh Prof Zullies.

Demikian juga obat untuk pasien COVID-19. Pada pasien COVID-19 dengan sakit ringan, biasanya akan diberikan obat antivirus, vitamin atau obat anti gejala.

"Akan tetapi, interaksi obat-obat ini bisa dihindari dengan mengatur cara penggunaan, misal diminum pagi dan sore, atau mengurangi dosis. Masing-masing interaksi obat itu ada mekanismenya sendiri-sendiri," jelas Prof Zullies.

3. Bukan Anggota IDI, STR Sudah Kedaluarsa

Dr Lois dipastikan bukan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Hal itu diungkap oleh pegiat COVID-19, dr Tirta Mandira Hudhi, yang mengaku sempat dikontak oleh dr Lois Owien.

Lewat unggahan di Instagram yang dikutip Tribunnews, Senin (12/7/2021), dr Tirta juga menyatakan, dr Lois tidak terdaftar sebagai anggota IDI.

"Ibu ini mengaku sebagai dokter. Setelah dikonfirmasi ke Ketua IDI Pusat, dr Daeng, dan saya konfirmasi ke Ketua MKEK, beliau mengatakan bahwa dr Lois tidak terdaftar di anggota IDI," kata dr Tirta.

Lebih lanjut, dr Tirta menjelaskan, seluruh dokter di Indonesia harus tergabung dalam IDI.

Oleh karena itu, ia mempertanyakan status dokter Lois.

Apalagi Surat Tanda Registrasi (STR) dr Lois juga disebut tidak aktif sejak 2017.

"Ibu Lois tidak menangani pasien pandemi, baik menjadi relawan ataupun praktik," bebernya.

"Ibu Lois sudah mendapatkan dokumentasi di berbagai laman media sosialnya sebelum dihapus, kedapatan menghina dan memaki, menggunakan kata kotor dan kasar kepada beberapa dokter," imbuhnya.

Kepastian dr Lois bukan anggota IDI juga dibenarkan oleh Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI), dr Pukovisa.

Disampaikan keanggotaan yang bersangkutan di IDI sudah kadaluarwarsa.

"Iya memang sudah lama tidak aktif menjadi anggota IDI," ujarnya dalam pesan singkatnya saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Senin (12/7/2021).

Lois Owien Akui Punya Kuasa Bubarkan IDI dan Pecat Nakes
Lois Owien Akui Punya Kuasa Bubarkan IDI dan Pecat Nakes (kolase TribunPalu.com)

4. dr Lois menyebut Presiden takut dengan IDI.

Meski sudah tidak aktif, akun Instagram tersebut tetap diserbu netizen.

Postingan-postingan dr Lois dibanjiri komentar netizen.

Salah satu yang disorot yakini postingan dr Lois soal Presiden Jokowi dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pada captionya, dr Lois menyebut Presiden takut dengan IDI.

Dia bahkan menyebut IDI kerasukan setan karena Presiden Jokowi melakukan semua yang dikatakan IDI.

"Presiden aja ya...
Takuttttttt banget sama IDI
Di suruh apa aja mau.

IDI suruh Vaksin
Presiden mau
IDI suruh buat aturan wajib Vaksin
Presiden mau
IDI suruh semua org harus Vaksin
Presiden juga mau

Padahal mereka itu cuma 1%
Tapi kelakuannya...kyk mereka aja yg punya Negara ini.

Dan lucunya lagi..
99% juga takuttttttt banget sama 1% ini hehehehehe..

Soalnya 1% ini lagi kerasukan setan. Ntah ilmu apa yg di pakai sampai semua nurut sama mereka.

Berarti setan yg merasuki IDI ini pangkatnya Jenderal bintang 7," tulis dr Lois, 18 Februari 2021, seperti dilansir Tribun-timur.com.

Capture postingan dr Lois 18 Februari 2021 tentang Presiden Jokowi (Instagram @dr_lois7) . (Capture Tribun Timur/ Sakinah Sudin)

5. Profil Singkat dr Lois Owien

Melansir dari Tribunnews.com, merujuk akun Facebooknya, Lois Owienn (dr Lois), dr Lois diketahui tinggal di Jakarta.

Dalam biodatanya itu, ia menuliskan lulus dari jurusan kedokteran universitas swasta besar di Jakarta pada 2000.

Ia juga menuliskan keterangan anti aging medicine.

Hal ini tidak hanya tertulis di bio akun Facebooknya, tetapi juga tertulis di bio akun Twitternya, Lois Owien.

Untuk diketahui, anti aging medicine adalah cabang ilmu kedokteran dan kedokteran terapan yang berguna untuk mengobati penyebab penuaan dan bertujuan untuk mengurangi penyakit terkait usia.

Merujuk bio akun Twitternya itu, setelah lulus kuliah kedokteran, dr Lois melanjutkan pendidikannya dalam bidang anti aging medicine di Malaysia.

Diketahui, bidang keilmuan tersebut belum diakui sebagai bidang keilmuan dokter spesialis, melainkan hanya setara S2 di Indonesia.

( tribunjogja.com/ tribunnews.com/ kompas.com / TribunPalu.com)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved