Profil Tokoh

Siapa Itu Mia Audina? Disebut Regenerasi Susi Susanti Ratu Badminton, Malah Jadi WN Belanda

Mia Audina dulu disebut calon terkuat sebagai regenerasi Susi Susanti san Ratu Badminton Indonesia, tapi kini malah jadi warga negara Belanda.

Editor: Putri Safitri
net
Atlet Bulutangkis Indonesia Mia Audina meraih perak, Susi Susanti Perunggu di Olimpiade Atlanta 1996 

Namun, pencapaian pebulutangkis kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1979 itu tetap belum bisa membuatnya keluar dari bayang-bayang Susi.

Dalam sebuah laga simulasi pun, Susi ternyata masih lebih unggul dari juniornya itu.

“Saya akui, saya masih sulit kalahkan dia. Susi masih bagus dan ulet,” puji Mia setelah simulasi jelang Piala Sudirman dan Kejuaraan Dunia 1997, dikutip Kompas, 26 April 1997.

Sayang, setelah melepas masa lajang dengan pria Belanda Tylio Lobman pada 30 Maret 1999 grafik penampilan dan prestasi Mia perlahan menurun.

Meninggalnya sang ibu Lanny Susilawati pada akhir April 1999 tak bisa dipungkiri menjadi penyebab turunnya karier Mia.

Mia sempat absen lama dari pelatnas lantaran ikut pindah suaminya ke Belanda.

Di sana, dia sempat mengajukan permohonan untuk tetap berada di skuad PBSI meski berlatih di Belanda, tapi tak berbuah hasil.

“Kalau dia pindah ke Belanda ya harus keluar dari pelatnas. Dia memang maunya begitu (tetap di pelatnas namun latihan di Belanda), tetapi yang namanya organisasi tentu ada aturan mainnya, jadi harus patuh,” ujar Karsono, ketua harian PBSI, sebagaimana dilansir Kompas, 28 Juli 1999. Alhasil, Mia pilih mengundurkan diri dari PBSI.

Di negeri kincir angin, keinginannya untuk bermain masih tinggi. Mia akhirnya “mendua” dengan membela panji Merah Putih Biru.

“Dia mendapatkan kewarganegaraan Belanda dan mulai tampil untuk Belanda pada 2000. Dia memenangi beberapa medali di kejuaraan Eropa dan Dunia. Dia juga sempat mencapai babak perempatfinal di olimpiade 2000 Sydney,” tulis Markula.

Namun, Mia jarang antusias jika tampil di bawah bendera Belanda dalam beragam kompetisi yang digelar di Indonesia.

Kadang dia mengaku tak ingin diikutkan tim, seperti pada ajang Uber Cup 2004 dan 2008.

“Terlalu sensitif. Bagaimanapun saya dulu dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia,” tuturnya dikutip Kompas, 16 Maret 2004.

Toh, taji Mia masih besar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved