Breaking News:

Sulteng Hari Ini

Sosiolog Untad Komentari Aksi Napi Ricuh di Penjara

perselisihan antara napi dan petugas sipir bisa dipicu dari dua sisi, yakni secara internal dan eksternal.

Penulis: fandy ahmat | Editor: Haqir Muhakir
Handover/Dok Pribadi
Sosiolog Untad Dr Christian Tindjabate 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Sejumlah penghuni Lapas Kelas III Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terlibat kericuhan yang berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas, Kamis (7/10/2021) lalu. 

Sosiolog Universitas Tadulako (Untad) Christian Tindjabate menjabarkan beberapa kemungkinan penyebab napi di penjara bisa begitu beringas. 

Ia menuturkan, perselisihan antara napi dan petugas sipir bisa dipicu dari dua sisi, yakni secara internal dan eksternal. 

Menurut Christian, secara internal, petugas mesti memahami napi adalah orang-orang yang berada dalam tekanan kejiwaan akibat hukuman yang dijalani selama bertahun-tahun di Lapas. 

"Secara sosio psikologis, mereka (napi) akan mudah tersinggung jika mengalami perlakuan tidak mengenakkan. Sekalipun yang dilakukan petugas Lapas tujuannya baik untuk pembinaan," kata Christian saat dihubungi, Minggu (10/10/2021). 

Baca juga: 5 Pemain Dipastikan Absen di Laga Awal Seri Kedua Liga 1, Persib Bandung Putar Otak Atur Rotasi

Menanggapi kasus ini, dosen FISIP Untad itu menyebut bukan perkara sepele bisa menyulut para napi hingga melawan petugas di dalam Lapas. 

Ia menilai, pasti ada alasan yang membuat narapidana melakukan perlawanan di penjara. 

Masalah lain dalam internal, sambung Christian, yakni menyangkut sistem pembinaan di dalam Lapas. 

"Petugas Lapas mesti extra hati hati dalam bertugas. Harus memiliki kepekaan penting guna menghindari perilaku yang berpotensi menimbulkan reaksi ketidaksenangan dari para napi," tuturnya. 

Selain itu, bagi Christian, ada pula faktor eksternal yang bisa menyebabkan narapidana maupun tahanan berani berbuat nekat. 

Diantaranya soal pemberitaan tentang kerusuhan di lembaga pemasyarakatan, baik di indonesia maupun di luar negeri. 

"Faktor eksternal berupa informasi ini bisa membentuk mindset para napi untuk menempuh cara-cara kekerasan. Bisa jadi juga sebagai bentuk penolakan mereka terhadap kebijakan dari Lapas yang dianggap merugikan para napi," ucap Christian.(*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved