Breaking News:

Virus Corona

Tanpa Vaksinasi, Molekul RNA pada Tikus Bisa Picu Kekebalan Tubuh Melawan Covid-19

Pengujian molekul RNA pada tikus menunjukkan kemampuan untuk memicu kekebalan yang kuat dalam melawan virus corona (Covid-19), tanpa dilakukannya vaks

Editor: Putri Safitri
HandOver
Ilustrasi Vaksinasi Covid-19 

TRIBUNPALU.COM - Pengujian molekul RNA pada tikus menunjukkan kemampuan untuk memicu kekebalan yang kuat dalam melawan virus corona (COVID-19), tanpa dilakukannya vaksinasi.

Ini menawarkan jalur potensial untuk melindungi orang-orang di negara-negara yang mengalami keterbatasan pasokan vaksin.

Pernyataan ini disampaikan Universitas Yale pada Rabu kemarin.

"Molekul yang dikenal sebagai SLR14, adalah loop RNA sederhana, mudah dibuat, yang dapat memicu produksi interferon, sekelompok protein yang diproduksi oleh sel-sel kekebalan yang merupakan kunci respons bawaan atau awal tubuh terhadap infeksi," kata universitas itu dalam keterangan resminya.

Petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta usai memeriksa kesehatan karyawan Restoran Amigos di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2020). Restoran Amigos disebut sebagai salah satu tempat yang pernah dikunjungi warga Jepang dan warga Indonesia yang positif Covid-19 pada 14 Februari 2020. Pemilik restoran menghentikan sementara operasional restoran untuk melakukan pembersihkan lokasi dan memeriksa kesehatan para karyawan untuk memastikan tidak ada penularan virus korona baru.
Petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta usai memeriksa kesehatan karyawan Restoran Amigos di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2020). Restoran Amigos disebut sebagai salah satu tempat yang pernah dikunjungi warga Jepang dan warga Indonesia yang positif Covid-19 pada 14 Februari 2020. Pemilik restoran menghentikan sementara operasional restoran untuk melakukan pembersihkan lokasi dan memeriksa kesehatan para karyawan untuk memastikan tidak ada penularan virus korona baru. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (11/11/2021), berbagai penelitian yang dilakukan pun telah menunjukkan bahwa pasien Covid-19 yang menghasilkan interferon tingkat tinggi memiliki hasil yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang kadar interferonnya rendah selama hari-hari awal infeksi.

Tikus yang dirawat juga merespons berbagai varian baru Covid-19 dengan baik.

Termasuk varian Delta yang telah menjadi varian yang dominan di Amerika Serikat (AS).

Rincian penelitian ini diterbitkan pada Rabu kemarin di jurnal Experimental Medicine.

Baca juga: Tips Cara Orangtua Dampingi Anak agar Tak Kecanduan Gadget, Penting untuk Jadi Teladan yang Baik

Baca juga: Jadwal Laga Timnas Indonesia Jelang Piala AFF Suzuki 2020: Jajal Kekuatan Afghanistan dan Myanmar

Illustrasi Vaksin Covid-19
Illustrasi Vaksin Covid-19 (Kompas.com)

Jika uji klinis pada manusia mengkonfirmasi efektivitas SLR14 yang merupakan senyawa yang relatif murah dan dapat membantu mengurangi kasus Covid-19 di negara-negara berpenghasilan rendah yang memiliki keterbatasan pasokan vaksin, maka ini juga dapat memberikan manfaat penting bagi individu dengan gangguan kekebalan (immunocompromised) yang tidak mampu menciptakan tingkat sel B penghasil antibodi dan sel T pembunuh virus yang cukup.

Dalam percobaan, para peneliti menemukan bahwa dosis tunggal senyawa itu tidak hanya cukup untuk melindungi tikus dari penyakit parah dan kematian saja.

Baca juga: Detik-detik Pegawai SPBU Tusuk Sopir Angkot, Sempat Cekcok karena Masalah Sepele

Baca juga: Jalur Palopo Terputus, Pertamina Pasok 320 Kilo Liter BBM dari Sulteng dan Sultra ke Luwu Timur

Namun juga bekerja melawan berbagai varian, bahkan dapat membasmi virus dari tikus yang mengalami kondisi infeksi kronis.

Molekul tersebut bekerja dengan melompat, memulai apa yang dicirikan oleh pelepasan sebagai penanggap pertama sistem kekebalan terhadap infeksi virus.

(Tribunnews.com )

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved