Breaking News:

Menko Perekonomian

Jadi Presidensi G20, Indonesia Ikut Menentukan Arah Perekonomian Dunia

Menjadi Presidensi G20 adalah sebuah kehormatan sekaligus harapan bagi Indonesia untuk turut andil mencari exit policy dari pandemi Covid-19.

Penulis: Rezha Rinaldy | Editor: Haqir Muhakir
Handover/Kemenko Perekonomian
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Seminar Nasional Moderasi Indonesia, Senin (15/11/2021). 

TRIBUNPALU.COM - Indonesia menjadi bagian dari Group of Twenty (G20) sejak tahun 1998.

G20 merupakan forum koordinasi kebijakan yang lahir sebagai respons terhadap krisis ekonomi tahun 1998-1999 yang merepresentasikan 85 persen PDB dunia, 75 persen perdagangan dunia, 80 persen investasi global dan 2/3 populasi penduduk dunia.

Menjadi Presidensi G20 adalah sebuah kehormatan sekaligus harapan bagi Indonesia untuk turut andil mencari exit policy dari Pandemi Covid-19.

”Tantangan global tidak akan selesai hanya dengan kehormatan dan harapan saja. Presidensi tahun depan harus dimaknai lebih dari sekedar ”ketua sidang” (atau Chair), namun juga pemimpin (leader) yang akan menentukan arah perkembangan perekonomian dunia ke depan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Seminar Nasional Moderasi Indonesia, Senin (15/11/2021).

Modal dasar yang kuat untuk mencapai tujuan dalam Presidensi G20 telah dimiliki Indonesia, antara lain pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2021 tercatat 3,51 persen (yoy), tren penurunan kasus Covid-19 masih terus dicapai di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali.

Baca juga: Babak Pertama Perempat Final Liga 3 Region Sulteng: Bandar Sulteng 1-2 Persip Palu

Serta angka reproduction rate pandemi Covid-19 pada akhir Oktober 2021 sebesar 0,74 (di bawah 1) yang jauh lebih baik dibanding bulan Juli 2021 yang sebesar 1,35.

Indonesia juga melihat pentingnya pemerataan sentra produksi internasional untuk menguatkan rantai pasok global dan mendorong regional champions di kawasan.

Ketergantungan harus dikurangi dan kemandirian harus didorong untuk meningkatkan nilai tambah eksistensi ekonomi di kawasan.

Dalam mendukung ekosistem electric vehicle, Indonesia membangun pabrik baterai mobil listrik di Karawang.

”Pabrik baterai EV yang pertama di Asia Tenggara ini merupakan contoh upaya transformasi industri nasional sekaligus komitmen Indonesia terhadap pemulihan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan,” jelas Airlangga.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved