Tafsir Singkat Surah Al Kahfi Ayat 11 hingga 15, Lengkap dengan Bacaan Arab, Latin dan Terjemahannya

Berikut ini kami sampaikan tafsir singkat Surah Al Kahfi ayat 11-15 yang dilengkapi dengan bacaan arab, latin dan terjemahannya.

Shutterstock
Bacaan Surah Al Kahfi ayat 1 hingga 10 yang dilengkapi dengan arab, latin dan terjemahan. 

Tafsir Singkat Surah Al Kahfi Ayat 11 hingga 15, Lengkap dengan Bacaan Arab, Latin dan Terjemahannya

TRIBUNPALU.COM - Berikut ini kami sampaikan tafsir singkat Surah Al Kahfi ayat 11-15 yang dilengkapi dengan bacaan arab, latin dan terjemahannya.

Surah Al Kahfi merupakan surah yang sunah dibaca di hari Kamis malam dan Jumat.

Surah ini terdiri dari 110 ayat yang tergolong dalam surah-surah Makiyyah.

Tak hanya dibaca saja, barang siapa yang mengamalkannnya maka akan mendapatkan berkah yang besar dari Allah SWT.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya diantara dua Jum’at” [Shahih : Diriwayatkan oleh Al-Hakim 2/368 dan al-Baihaqi dalam as- Sunan al-Kubra 3/249. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no 6345]

Melalui artikel ini, kami akan menyampaikan tafsir surah Al Kahfi beserta dengan bacaan Arab, latin dan terjemahannya.

Kami telah melansirnya dari laman Quran Kemenag RI.

Baca juga: Amalan Sunnah Hari Jumat: Membaca Surat Al Kahfi Ayat 1-10,Ini Bacaan Al Kahfi Ayat 1-10 dan Artinya

Tafsir Surah Al Kahfi Ayat 11 hingga 15

Ayat 11

Allah mengabulkan doa para pemuda itu dengan menutup penglihatan dan pendengaran mereka, hingga mereka tidur nyenyak dan tidak ada suara yang akan membangunkan mereka dari tidur di dalam gua itu selama ratusan tahun.

Sangat besar rahmat Allah yang diberikan kepada mereka.

Tidak mudah bagi seseorang untuk tidur, di waktu jiwanya sedang gelisah dan takut.

Dengan tidur, seseorang mendapatkan ketenteraman hati. Dalam ayat ini dikatakan "menutup telinga" karena telinga itulah tempat masuknya suara yang menjadi sebab bangunnya seseorang dari tidur.

Seseorang dapat dikatakan tidur, bilamana telinganya tidak mendengar sesuatu lagi.

Ayat 12

Ayat ini menerangkan bahwa sesudah para pemuda itu tidur dalam gua selama 300 tahun, Allah lalu membangunkan mereka.
Pendengaran mereka dipulihkan kembali oleh Allah swt.

Ketika seorang penggembala kambing menggempur dinding batu yang menutup mulut gua itu, suara reruntuhan membuat mereka terbangun dari tidur yang panjang.

Ayat ini memberitahukan bahwa Allah mengetahui yang mana di antara dua golongan yang berselisih itu yang dapat menghitung dengan tepat berapa lamanya mereka tinggal dalam gua itu.
Tetapi akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidaklah mengetahui secara pasti berapa lama para pemuda itu tinggal dalam gua.

Lalu mereka mengakui bahwa Allah yang memelihara tubuh mereka sehingga tidak hancur, dan bertambah yakin akan kesempurnaan kekuasaan Allah serta ilmu-Nya.

Oleh karena itu, dengan peristiwa yang dialami, mereka dapat merenungkan perkara hari kiamat.

Bagi orang-orang yang beriman pada zaman itu, peristiwa tersebut menambah keteguhan iman mereka, sedang bagi orang kafir peristiwa itu menjadi bukti nyata bagi kekuasaan Allah.
Ahli tafsir berbeda pendapat dalam menjelaskan maksud kata "dua golongan" dalam ayat ini.

Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua golongan itu ialah golongan pertama adalah para pemuda penghuni gua itu, dan golongan kedua adalah penduduk kota yang mengetahui sejarah menghilangnya pemuda-pemuda itu.

Pendapat lain mengatakan bahwa kedua golongan yang berselisih pendapat itu ialah para pemuda penghuni gua dan raja-raja yang memerintah silih berganti di negeri Afasus.

Pendapat yang mendekati kebenaran ialah yang berpendapat bahwa kedua golongan itu adalah para pemuda penghuni gua itu sendiri.
Setelah bangun dari tidur, mereka saling bertanya satu sama lain. Sebagian mengatakan, "Kita tinggal dalam gua ini sehari atau setengah hari."

Sebagian yang lain mengatakan, "Tuhanmu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal dalam gua ini."

Baca juga: Lakukan Hal Ini Jika Lupa Jumlah Rakaat Salat: Tunaikan Sujud Sahwi hingga Buang Keragu-raguan

Wanita yang sedang berhalangan tetap diperbolehkan membaca Al Quran asalkan tidak menyentuhnya.
Wanita yang sedang berhalangan tetap diperbolehkan membaca Al Quran asalkan tidak menyentuhnya. (Sajian Sedap)

Ayat 13

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah swt meneguhkan hati para pemuda.

Dalam ayat ini, Allah mulai menguraikan kisah Ashhabul Kahf, yang pada ayat-ayat sebelumnya telah disampaikan secara global.

Allah mengata-kan kepada Rasul saw bahwa kisah yang disampaikan ini mengandung kebenaran.

Maksudnya diceritakan menurut kejadian, tidak seperti yang dikenal oleh bangsa Arab.

Mereka telah mengenal kisah pemuda-pemuda penghuni gua ini, akan tetapi dalam bentuk yang berbeda.

Umayyah bin Abi Salt, seorang penyair Arab zaman permulaan Islam dari Bani Umayyah (w. 9 H), pernah dalam sebuah baitnya menyebut gua ini, yang menunjukkan bahwa bangsa Arab telah mengenal kisah ini.

Baitnya berbunyi: Tidak ada di situ kecuali ar-Raqim (batu bertulis) yang berada di dekatnya serta anjingnya.

Sedang kaum itu tidur dalam gua. Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya para penghuni gua itu adalah para pemuda yang beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan.

Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan.

Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang batil.

Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah perkembangan Islam, para pemuda yang lebih banyak pertama kali menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Adapun orang tua, seperti tokoh-tokoh Quraisy, tetap mempertahankan ajaran agama yang salah, sedikit sekali di antara mereka yang menerima ajaran Islam.

Ayat 14

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah swt meneguhkan hati para pemuda itu dengan kekuatan iman, membulatkan tekad mereka kepada agama tauhid, dan memberikan keberanian untuk mengatakan kebenaran agama itu di hadapan raja Decyanus yang kafir dan sewenang-wenang.

Ketika raja itu mencela dan memaksa mereka untuk menyembah berhala, mereka dengan lantang berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia."

Dalam pernyataan mereka ini, terkandung dua pengakuan tentang kekuasaan Tuhan.

Pertama, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dalam memelihara dan menciptakan alam semesta ini.

Kedua, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dan hak-Nya untuk disembah oleh makhluk.

Orang-orang musyrik mengakui keesaan Tuhan dalam menciptakan dan memelihara alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Pasti mereka akan menjawab, "Allah."

Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebe-naran). (al-'Ankabut/29: 61) Namun demikian, orang musyrikin tidak mengakui keesaan Tuhan dan hak-Nya untuk disembah oleh para hamba-Nya.

Mereka menyembah berhala sebagai sekutu Tuhan yang akan mendekatkan mereka kepada-Nya, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt:

Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (az-Zumar/39: 3)

Sesudah para pemuda itu menyatakan pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan, lalu mereka memberikan alasan penolakan terhadap penyembahan berhala-berhala sebagaimana yang dikehendaki oleh raja Decyanus.

Mereka menyatakan bahwa jika mereka menyembah dan berdoa kepada selain Allah, itu berarti mengerjakan sesuatu yang jauh dari kebenaran.

Ayat 15

Dalam ayat ini, Allah swt menceritakan percakapan di antara para pemuda itu.

Mereka mengatakan bahwa kaumnya yang berada di bawah kekuasaan Decyanus, meskipun lebih tua dan memiliki banyak pengalaman, namun menyekutukan Tuhan tanpa mempergunakan akal pikiran.

Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang benar, atau bukti yang kuat dan jelas untuk memperkuat kebenaran yang mereka katakan dan percayai.

Pemuda-pemuda itu menyatakan bahwa kaum mereka seharusnya berbuat seperti yang mereka lakukan, yaitu menunjukkan bukti-bukti kebenaran agama yang mereka anut.

Anak-anak muda itu juga menyatakan bahwa tidak ada kezaliman yang lebih besar kecuali kezaliman orang yang berbuat dusta terhadap Allah, seperti mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai sekutu.

Kaum mereka telah mempersamakan martabat berhala-berhala dengan martabat Tuhan yang tinggi, tetapi mereka tidak dapat memberikan alasan yang benar, padahal agama seharusnya berdasarkan kepercayaan atau alasan yang benar.

Mereka mengada-adakan nama-nama untuk sebutan Tuhan dengan hanya menuruti hawa nafsu mereka.

Firman Allah swt: Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya.

Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka. (an-Najm/53: 23)

Nama-nama yang diberikan kepada sekutu-sekutu Allah itu bermacam-macam seperti al-Lata, al-Manat, al-Uzza, yaitu nama-nama untuk berhala-berhala yang diberikan oleh orang-orang Arab Jahiliah.

Baca juga: Kumpulan Bacaan Zikir dan Doa Pembuka Rezeki yang Bisa Dibaca Setelah Salat Subuh atau Pagi Hari

Bacaan Surah Al Kahfi Ayat 11 hingga 15

فَضَرَبْنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمْ فِى الْكَهْفِ سِنِيْنَ عَدَدًاۙ - ١١

11. fa ḍarabnā 'alā āżānihim fil-kahfi sinīna 'adadā

Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun.

ثُمَّ بَعَثْنٰهُمْ لِنَعْلَمَ اَيُّ الْحِزْبَيْنِ اَحْصٰى لِمَا لَبِثُوْٓا اَمَدًا ࣖ - ١٢

12. ṡumma ba'aṡnāhum lina'lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā

Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara ke dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ - ١٣

13. naḥnu naquṣṣu 'alaika naba`ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanụ birabbihim wa zidnāhum hudā

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.

وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا - ١٤

14. wa rabaṭnā 'alā qulụbihim iż qāmụ fa qālụ rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad'uwa min dụnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

هٰٓؤُلَاۤءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةًۗ لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطٰنٍۢ بَيِّنٍۗ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ - ١٥

15. hā`ulā`i qaumunattakhażụ min dụnihī ālihah, lau lā ya`tụna 'alaihim bisulṭānim bayyin, fa man aẓlamu mim maniftarā 'alallāhi każibā

Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

(TribunPalu.com/Hakim)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved