Buaya Berkalung Ban

Ban Buaya Dicopot Warga, Kepala BKSDA Sulteng: Terima Kasih Warga Palu

Hasmuni juga berterima kasih kepada masyarakat Kota Palu karena senantiasa membantu dalam pelepasan ban pada leher Buaya itu.

Penulis: Nur Saleha | Editor: mahyuddin
TRIBUNPALU.COM/ELA
Kepala BKSDA Sulteng, Hasmuni Hasmar. 

Laporan Wartawan TribunPali.com, Nur Saleha

TRIBUNPALU.COM,PALU - Bisul Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah akhirnya pecah.

Hal itu disampaikan Kepala BKSDA Sulteng Hasmuni Hasmar menanggapi penangkapan Buaya Berkalung Ban oleh warga yang kemudian dilepaskan kembali ke sungai.

"Alhamdulilah sejak tahun 2016 kita berusaha melepaskan ban yang menjadi kalung pada Buaya di Palu itu. Kemarin sudah berakhir, artinya penyakit yang selama ini berada di BKSDA Sulteng yang merupakan bisul karena semua menuntut untuk diselamatkan itu Buaya dan hari ini sudah sembuh atau sudah sehat," ujar Hasmuni di ruangkerjanya, Selasa (8/2/2022).

Kantor BKSDA Sulteng berada di Jl Muh Yamin, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Baca juga: Sosok Tili, Pria Sragen yang Bebaskan Buaya Berkalung Ban di Palu, Habiskan Uang 4 Juta untuk Umpan

Hasmuni juga berterima kasih kepada masyarakat Kota Palu karena senantiasa membantu dalam pelepasan ban pada leher Buaya yang telah bertahun-tahun menjadi kalungnya.

"Seluruh keluarga besar dan jajaran BKSDA Sulteng bahkan keluarga Kementerian Kehutanan sangat menyambut dengan baik dan mengucapkan terima kasih," tuturnya.

Terkait pelepasan Buaya Berkalung Ban kembali ke habitatnya, Hasmuni tidak mempersoalkan karena berdasarkan permintaan masyarakat.

Baca juga: Usai Tangkap Buaya Berkalung Ban, Tili Dapat Voucher Makan Gratis Selama Satu Bulan

"Kami sudah bekerja sama dengan tim Damkar Palu, dan seharusnya Buaya Berkalung Ban itu harusnya dievakuasi ke kandang transit BKSDA Sulteng untuk diperiksa, namun keinginan masyarakat setempat adalah dilepasliarkan kembali," jelasnya.

"Itu dilepas liarkan dengan pola penerapan cara baru pengelolaan konservasi yaitu mengedepankan masyarakat sebagai subjek, maka kami sepakat untuk dilepaskan dengan memperhatikan kearifan lokal," tutur Hasmuni menambahkan.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved