Bacaan & Tafsir Surah Al Muthaffifin Ayat 25 hingga 30, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Berikut ini TribunPalu sampaikan bacaan dan tafsir Surah Al Muthaffifin ayat 25 hingga 30 lengkap dengan artinya.
Bacaan & Tafsir Surah Al Muthaffifin Ayat 25 hingga 30, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
TRIBUNPALU.COM - Al Muthaffifin merupakan salah satu surah yang berada di dalam kitab suci Al Quran.
Surah ini terdiri dari 36 ayat yang berada di urutan surah ke-83 dalam Al Quran.
Al Muthaffifin diambil dari ayat pertamanya yang berarti orang-orang curang.
Melansir dari tayangan YouTube Fahmi Team, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang kerap disapa Gus Baha menjelaskan tentang asbabun nuzul turunnya surah tersebut.
Ia menjelaskan bahwa orang Madinah memiliki kebiasaan buruk dalam hal perdagangan.
Masyarakat di sana pada zaman itu terkenal dengan kecurangannya dalam melaksanakan jual beli.
Sehingga Rasulullah SAW merasa kaget saat menghadapi masyarakat Madinah dalam berdagang.
Pada surah ini Allah SWT mengingatkan kepada para manusia untuk tidak melakukan kecurangan di tempat jual beli.
Pada hari itu, manusia akan menerima Sijjin dan 'Illiyyin, yaitu catatan amal masing-masing.
Orang-orang yang curang dan tidak mempercayai Al-Quran akan mendapat balasan neraka.
Sedangkan, orang yang beriman akan diberikan tempat yang indah di surga berupa dipan yang nyaman dan dicukupkan semua nikmat.
Untuk mengetahuinya lebih detail, berikut ini TribunPalu sampaikan bacaan Surah Al Muthaffifin yang dilansir dari laman Quran Kemenag RI.
Baca juga: Bacaan & Tafsir Surah Al Muthaffifin Ayat 19 hingga 24, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya

Bacaan Surah Al Muthaffifin Ayat 25 hingga 30
يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ - ٢٥
Yusqawna mir rahiiqim makhtuum
Artinya: Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak (disegel),
خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَۗ - ٢٦
Khitaamuhuu misk; wa fii zaalika falyatanaafasil Mutanaafisuun
Artinya: laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.
وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ - ٢٧
Wa mizaajuhuu min Tasniim
Artinya: Dan campurannya dari tasnim,
عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ - ٢٨
'Ainaiy yashrabu bihal muqarrabuun
Artinya: (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah).
اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ - ٢٩
Innal laziina ajramuu kaanuu minal laziina aamanuu yadhakuun
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman.
وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ - ٣٠
Wa izaa marruu bihim yataghaamazuun
Artinya: Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya,
Baca juga: Bacaan dan Tafsir Surah Al Kahfi Ayat 66 hingga 70, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Tafsir Surah Al Muthaffifin Ayat 25 hingga 30
Ayat 25
Mereka diberi minum dari khamar murni yang tidak memabukkan, yang tempatnya masih dilak dan disegel sehingga isinya terjaga keaslian serta kesegarannya, dan belum pernah ada yang meminum bahkan menyentuhnya.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang berbakti itu diberi minum dari khamar murni yang bersih dari campuran dan tidak memabukkan. Khamar itu disimpan di tempat yang tersegel sehingga terpelihara dari pencemaran.
Ayat 26
Khamar itu dilak dengan rapat, di mana laknya berasal dari kasturi yang beraroma harum dan menyegarkan. Bagusnya lak menunjukkan khamr itu sangat baik dan berkualitas. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, yakni dengan banyak beribadah dan beramal saleh.
Segelnya adalah kasturi dan untuk mencapai kenikmatan yang demikian itu, hendaklah orang berlomba-lomba dalam rangka melaksanakan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah. Barang siapa yang giat beribadah kepada-Nya, maka akan cepat pula melintasi jembatan as-sirathal-mustaqim yang berada di atas api neraka.
Ayat 27
Dan tidak hanya dilak dengan kasturi, campurannya dari tasnim.
Dalam dua ayat ini dijelaskan bahwa campuran khamar murni itu ialah dari tasnim yang datang dari daerah yang tinggi. Tasnim adalah mata air yang menjadi sumber air minum orang-orang yang didekatkan kepada Allah.
Ayat 28
Tasnim adalah mata air surga yang berada di ketinggian dan berkualitas tinggi pula. Itulah mata air yang diminum oleh mereka yang dekat kepada Allah karena sungguh-sungguh beriman dan beramal saleh. Inilah salah satu penghargaan tertinggi yang Allah berikan kepada mereka.
Dalam dua ayat ini dijelaskan bahwa campuran khamar murni itu ialah dari tasnim yang datang dari daerah yang tinggi. Tasnim adalah mata air yang menjadi sumber air minum orang-orang yang didekatkan kepada Allah.
Ayat 29
Berbeda dari orang-orang berbakti yang selalu beriman dan beramal saleh, sesungguhnya orang-orang yang berdosa dan kafir adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman, terutama yang fakir dan miskin. Mereka beranggapan bahwa agama yang benar adalah yang banyak diikuti oleh kaum bangsawan dan kaya.
Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas dan berdosa dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Ketika Nabi Muhammad membawa Al-Qur'an dengan ajaran Islam yang mengandung kebajikan, ia mendapatkan perlawanan yang hebat dari orang-orang musyrik Mekah. Perlawanan ini terutama dari para pembesarnya yang sejak nenek moyangnya sudah biasa menyembah patung berhala. Mereka menentang ajaran apa saja yang datang dari luar yang bertentangan dengan kepercayaan mereka. Telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang besar yang bersandar kepada kekuasaan dan kebendaan atau kekayaan bahwa mereka selalu bersikap sinis atau mencemoohkan pihak lain yang tidak sejalan dengan kepercayaan dan kebudayaan mereka.
Ayat 30
Dan apabila mereka, yakni orang-orang yang beriman, melintas di hadapan mereka yang berdosa dan kafir itu, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda ejekan terhadap mereka.
Apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, orang-orang yang berdosa itu saling memberi isyarat dengan kedipan mata yang mengandung unsur ejekan dan cemoohan. Apabila kembali kepada kaum kerabatnya, mereka membangga-banggakan diri karena telah mengadakan tindakan terhadap pengikut-pengikut Muhammad saw dengan berbagai tindakan yang mengandung unsur ejekan, cemoohan, dan permusuhan.
(TribunPalu/Hakim)