Palu Hari Ini

Dalam 10 Hari 2 Warga Tewas Diserang Buaya, Bom Waktu di Teluk Palu Benar-benar Meledak?

Masyarakat Kota Palu, terutama yang bermukim di sekitar sungai dan teluk Palu dibuat was-was dengan serangan buaya.

NANANG/AFP
Buaya berkalung ban di Palu 

Sehingga penanganan biota sungai tidak boleh dilakukan secara parsial.

Pemerintah Kota Palu hingga kini belum memberikan merumuskan solusi penanganan Buaya itu.

Padahal Pemkot Palu di masa pemerintahan Hidayat pernah menyiapkan lahan untuk pembangunan penangkaran kepada BKSDA.

Hanya saja, BKSDA Sulteng tak menindaklanjuti permintaan.

Metode Konservasi

BKSDA Sulteng berharap besar dari personel Damkar untuk penangkapan Buaya.

Setelah penangkapan, maka persoalan penangkaran menjadi urusannya.

Kepala BKSDA Sulteng Hasmuni Hasmar menyebut pihaknya menyiapkan kandang transit di Kantor Palu dan penangkaran di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Sigi.

"Kami sudah bekerja sama dengan tim Damkar Palu,” tutur Hasmauni.

Menurutnya, Buaya tak harus ditangkap untuk disimpan di penagkangkaran. Ada pola metode konservasi

"Itu dilepasliarkan dengan pola penerapan cara baru pengelolaan konservasi yaitu mengedepankan masyarakat sebagai subjek, maka kami sepakat untuk dilepaskan dengan memperhatikan kearifan lokal," tutur Hasmuni menambahkan.

Diketahui kemunculan pertama Buaya berkalung ban di Sungai Palu, pada bulan September 2016.

Kondisi satwa dilindungi itu menarik perhatian warga sekitar bahkan sampai mancanegara.

Berbagai upaya dilakukan untuk menangkap serta melepaskan ban dari leher Buaya tersebut.

Tapi tak kunjung berhasil.

Operasi pertama dilakukan oleh sebuah organisasi perlindungan satwa JAAN Indonesia bersama Kelompok Pecinta Alam (KPA) setempat.

Namun upaya yang dilakukan selama 13 hari itu belum membuahkan hasil.

Habitat Terganggu

Maraknya kemunculan Buaya di Teluk Palu mendapat sorotan dari pemerhati lingkungan dan akademisi Universitas Tadulako (Untad).

Dekan Fakultas Kehutanan Untad Golar menyebut hal itu ada kaitannya dengan kerusakan habitat atau kondisi air sungai.

Golar mengatakan, dulunya sekitar Sungai Palu masih dijumpai rawa-rawa namun kini telah dialihfungsikan menjadi pemukiman.

"Terkait Buaya berkeliaran di laut ini mengindikasikan habitat mereka terganggu. Mungkin saja terjadi ketidakseimbangan ekosistem," ujarnya beberapa waktu lalu.

Buaya naik ke permukaan di sekitar jembatan gantung, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi tontonan warga sekitar, Minggu (8/5/2022).
Buaya naik ke permukaan di sekitar jembatan gantung, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi tontonan warga sekitar, Minggu (8/5/2022). (TRIBUNPALU.COM/Jolinda)

Alih lahan rawa menjadi pemukiman maupun lainnya diduga telah mengganggu aktivitas dan kondisi lingkungan Buaya.

Golar pun memberikan sejumlah opsi saran kepada pemerintah terkait penanganan hewan reptil tersebut.

Pertama, ia mendorong pembuatan atau pembangunan penangkaran jika terdapat indikasi peningkatan populasi Buaya.

Sehingga ketika berhasil ditangkap, Buaya bisa segera dititipkan ke penangkaran untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

"BKSDA secara intensif melakukan pemantauan dan pengkajian terhadap populasi Buaya, kondisi eksisting ekosistem sungai dan intensitas temuan aktivitas Buaya," tutur Golar.

Selain itu, Golar menilai Pemerintah Kota Palu mesti terus memberikan peringatan dan pengawasan terhadap warga yang beraktifitas di sungai dan laut.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau tidak lengah dan waspada saat melakukan aktivitas di sekitar laut dan sungai.

Terakhir, Golar mengusulkan Sungai Palu dijadikan lokasi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) untuk habitat Buaya.

"Bila memungkinkan menjadikan Sungai Palu sebagai ekosistem esensial Buaya, seperti beberapa tempat lain di Kalimantan," ucapnya.(*)

Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved