Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 36 hingga 40, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Berikut ini adalah bacaan dan tafsir Surah Al Muddassir lengkap dengan artinya..
Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 36 hingga 40, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
TRIBUNPALU.COM - Berikut ini adalah bacaan dan tafsir Surah Al Muddassir lengkap dengan artinya.
Al Muddassir merupakan surah yang ada di dalam kitab suci Al Quran.
Surah ini berada di urutan ke-74 yang jumlah ayatnya 56.
Tergolong ke dalam surah Makiyyah, Surah Al Muddassir turun setelah Surah Muzzammil.
Al Muddassir diambil dari ayat pertamanya yang berarti 'orang yang berkemul'.
Melansir dari kanal YouTube Firanda Andirja, surah Al Muddassir memiliki makna yang sama dengan Surah Al Muzammil.
Dikatakan oleh Ustaz Dr Firanda Andirja, M.A., Surah Al Muddassir memiliki makna orang-orang yang memakai selimut.
"Maknanya sama dengan surah Al Muzammil yaitu orang yang memaki selimut.
Karena ad dissar adalah pakaian yang dipakai setelah as syiar atau yang menempel langsung, ad disar ini lapisan kedua dari pakaian," ungkapnya saat menjelaskan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Surah Al Muddassir dan Surah Al Muzammil memiliki hubungan yakni kandungannya saling berkaitan.
Surah Al Muzammil memiliki kandungan yang isinya seruan Allah SWT kepada Nabi Muhaammad SAW untuk beribadah.
"Beribadah di sini diartikan salat tahajud, karena ini merupakan bekal bagi seorang dai.
Allah SWT menyeru Nabi agar mengcharge imannya dengan tahajud dan bertasbih di sepertiga malam," sambung Ustaz Firanda.
Kemudian Surah Al Muddassir memiliki kandungan yang intinya Allah SWT menyeru kepada Nabi Muhammad SAW untuk ibadah berdakwah yang bernilai dakwah.
"Adapun Surah Al Muddassir memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk ibadah yang bermanfaat, yaitu dengan berdakwah kepada Allah SWT," jelasnya saat mengisi tausiyah di Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin.
Baca juga: Kapankah Batas Terakhir Puasa Syawal 2022, Simak Bacaan Niat Puasa Syawal
Pada Surah Al Muddassir, Allah SWT membuka firmannya dengan mengatakan kepada Nabi tanpa menyebut namanya.
"Allah membuka dengan menyebut bukan nabi tapi orang yang sedang berselimut.
Dalam Bahasa Arab menunjukkan kelembutan, yang dipanggil dengan kelembutan untuk seseorang tersebut," tandas Ustaz Firanda dalam penjelasan kajian tafsirnya.
Secara keseluruhan, Surah Al Muddassir memang menjelaskan tentang seruan Allah SWT agar beribadah.
Ustaz Yahya melalui tayangan YouTube Nurul Hayat Channel menjelaskan peta konsep dari Surah Al Muddassir ini.
"Saya memetakan kandungan dari Surah Al Muddassir ada 6 bagian, dan semoga kita semua bisa mentadaburinya bersama-sama.
Ya minimal kita pelajari 3 hingga 4 pertemuan untuk hasil yang maksimal," ungkapnya saat membuka kajian online tafsir Surah Al Muddassir.
Disebutkannya jika ayat 1 hingga 10, Surah Al Muddassir berbicara tentang wasiat bagi Nabi Muhammad di awal berdakwah.
Kemudian pada ayat 11 hingga 25 berisi tentang ancaman bagi pembesar musyrikin.
Dilanjutkan pada ayat 26 hingga 37, Allah SWT menjelaskan tentang saqar dan penjaga neraka.
Pada ayat 38 hingga 48, terdapat percakapan antara golongan kanan dan mujrimin.
Lalu di ayat 49 hingga 53, Allah SWT mengisahkan orang-orang yang telah berpaling dari Al Quran.
Di bagian akhir pada ayat 54 hingga 56, terdapat nasihat-nasihat yang berkaitan dengan paripurna.
"Saya memetakan kandungan dari Surah Al Muddassir ada 6 bagian, dan semoga kita semua bisa mentadaburinya bersama-sama.
Ya minimal kita pelajari 3 hingga 4 pertemuan untuk hasil yang maksimal," ungkapnya saat membuka kajian online tafsir Surah Al Muddassir.
Untuk mengetahuinya lebih jelas, TribunPalu telah mengutip bacaan dan tafsir Surah Al Muddassir.
TribunPalu telah melansirnya dari laman Quran Kemenag yang diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Baca juga: Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 31 hingga 35, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Bacaan Surah Al Muddassir Ayat 36 hingga 40
نَذِيْرًا لِّلْبَشَرِۙ - ٣٦
36. nażīral lil-basyar
sebagai peringatan bagi manusia,
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّتَقَدَّمَ اَوْ يَتَاَخَّرَۗ - ٣٧
37. liman syā`a mingkum ay yataqaddama au yata`akhkhar
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur.
كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ - ٣٨
38. kullu nafsim bimā kasabat rahīnah
Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya,
اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ ۛ - ٣٩
39. illā aṣ-ḥābal-yamīn
kecuali golongan kanan,
فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَۙ - ٤٠
40. fī jannātiy yatasā`alụn
berada di dalam surga, mereka saling menanyakan,
Baca juga: Bacaan & Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 26 hingga 30, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Artinya
Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 36 hingga 40
Ayat 36
Sebagai ancaman yang mengerikan dan sekaligus sebagai peringatan bagi manusia,
Dalam ayat-ayat ini, Allah memperingatkan bahwa tidak ada jalan bagi manusia untuk mengingkari kekuasaan-Nya yang nyata-nyata dapat mereka saksikan sendiri. Kata-kata "kalla" (sekali-kali tidak) juga merupakan bantahan terhadap ucapan-ucapan orang musyrik di atas.
Untuk menguatkan hal itu, Allah bersumpah dengan bulan, malam bila ia telah berlalu, dan bila subuh mulai bersinar.
Dengan bulan, malam, dan subuh itu Allah menegaskan bahwa neraka Saqar itu merupakan suatu bencana yang amat dahsyat bagi umat manusia.
Ada yang menerangkan bahwa maksud ihda al-kubar (salah satu bencana yang sangat besar) adalah salah satu dari tujuh neraka yang dahsyat.
Ketujuh lembah neraka (seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat lain) itu adalah: Jahanam, Ladha, Huthamah, Sa'ir, Saqar, Jahim, dan Hawiyah. Hal tersebut adalah sebagai ancaman bagi manusia.
Adanya tujuh neraka itu (satu di antaranya Saqar) merupakan ancaman bagi yang masih tidak mau tunduk kepada kehendak Allah.
Ada yang mengartikan nadhir (yang memberi ancaman) itu adalah sifat Allah, sehingga arti ayat ini adalah:
"Aku ini memberikan ancaman kepadamu, karena itu hendaklah kamu takut kepada ancaman itu". Ada yang mengartikan nadhir sebagai sifat Nabi Muhammad seperti disebutkan dalam ayat kedua di atas tadi.
Ayat 37
Yaitu bagi siapa di antara kamu yang ingin maju meraih kebajikan atau mundur sehingga enggan untuk meraihnya.
Allah menegaskan bahwa ancaman tersebut ditujukan kepada siapa saja yang mau menerima atau menolaknya.
Boleh saja ancaman itu ditolak, namun akan merasakan akibatnya, seperti halnya al-Walid yang disebut dalam ayat yang lalu.
Yang berkehendak maju atau mundur dalam ayat ini berarti "bagi siapa yang ingin mencapai kebaikan dan perbuatan taat sebanyak-banyaknya atau menjauhi kebaikan dan ketaatan itu sehingga terjatuh ke dalam lembah dosa dan maksiat".
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa orang-orang kafir itu telah memahami tentang adanya neraka Saqar, siksaannya, dan para malaikat penjaganya.
Terserah kepada mereka apakah akan segera menghindarinya dengan mengejar sebanyak mungkin perbuatan amal saleh dan taat, ataukah tetap menolak dan mengingkarinya, sehingga pada saat yang dijanjikan, mereka akan melihat sendiri buktinya.
Dari ayat ke-37 ini, Ibnu 'Abbas menyimpulkan bahwa selain kalimat-kalimatnya bersifat ancaman (tahdid), juga merupakan suatu maklumat bahwa siapa yang beriman dan taat kepada Nabi Muhammad pasti dibalasi dengan pahala yang tiada putusnya, sebaliknya yang menolak kebenaran Muhammad saw serta mendustainya akan disiksa dengan azab yang tiada henti-hentinya.
Baca juga: Bacaan & Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 21 hingga 25, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Artinya

Ayat 38
Ayat-ayat berikut merupakan pernyataan kepada manusia seluruhnya dalam kaitan dengan kebebasan memilih yang telah ditegaskan pada ayat-ayat sebelumnya.
Manusia mau maju meraih kebaikan atau mundur yang jelas setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya masing-masing, kecuali golongan kanan golongan inilah yang meraih keberuntungan karena memilih yang baik.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap jiwa manusia tergadai di sisi Allah.
Baik yang muslim maupun yang kafir, yang ingkar atau pun yang taat, semuanya tergantung kepada Allah.
Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari Kiamat, kecuali golongan kanan.
Artinya mereka dapat melepaskan keterikatan mereka di sisi Allah dengan amal-amal baik yang mereka kerjakan, sebagaimana halnya seorang dapat melepaskan diri dari status gadai karena telah membayarkan kewajibannya.
Golongan kanan yang dimaksudkan adalah orang-orang mukmin yang ikhlas, yang menerima buku amalan mereka di sebelah kanan di hari Kiamat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan golongan kanan dalam ayat ini adalah anak-anak yang memang belum diperhitungkan dosa dan kejahatannya.
Bahkan ada yang berpendapat golongan kanan itu adalah para malaikat.
Ayat 39
Ayat-ayat berikut merupakan pernyataan kepada manusia seluruhnya dalam kaitan dengan kebebasan memilih yang telah ditegaskan pada ayat-ayat sebelumnya.
Manusia mau maju meraih kebaikan atau mundur yang jelas setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya masing-masing, kecuali golongan kanan golongan inilah yang meraih keberuntungan karena memilih yang baik.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap jiwa manusia tergadai di sisi Allah.
Baik yang muslim maupun yang kafir, yang ingkar atau pun yang taat, semuanya tergantung kepada Allah.
Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari Kiamat, kecuali golongan kanan.
Artinya mereka dapat melepaskan keterikatan mereka di sisi Allah dengan amal-amal baik yang mereka kerjakan, sebagaimana halnya seorang dapat melepaskan diri dari status gadai karena telah membayarkan kewajibannya.
Golongan kanan yang dimaksudkan adalah orang-orang mukmin yang ikhlas, yang menerima buku amalan mereka di sebelah kanan di hari Kiamat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan golongan kanan dalam ayat ini adalah anak-anak yang memang belum diperhitungkan dosa dan kejahatannya.
Bahkan ada yang berpendapat golongan kanan itu adalah para malaikat.
Ayat 40
Golongan kanan yang disebut pada ayat yang lalu, meraih keberuntungan yaitu berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, yaitu bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal.
Penghuni surga itu bertanya, "Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?” Tidak dijelaskan secara teknis bagaimana adegan dialog itu terjadi.
Ayat ini menjelaskan lebih lanjut bahwa golongan kanan itu tempatnya di surga, mereka saling bertanya bagaimana nasib golongan yang durhaka.
Mereka disambut oleh malaikat dengan ucapan salam sebagaimana firman Allah: Maka,"Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!" (sambut malaikat). (al-Waqi'ah/56: 91)
Dan firman Allah: Penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya." (az-Zumar/39: 73)
(TribunPalu/Kim)