Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddasir Ayat 51 hingga 56, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Membaca Al Quran disarankan juga memahami tafsir dari bacaannya, dan inilah tafsir serta bacaan Surah Al Muddassir.
Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddasir Ayat 51 hingga 56, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
TRIBUNPALU.COM - Membaca Al Quran disarankan juga memahami tafsir dari bacaannya, dan inilah tafsir serta bacaan Surah Al Muddassir.
Al Muddassir merupakan surah yang ada di dalam kitab suci Al Quran.
Surah ini berada di urutan ke-74 yang jumlah ayatnya 56.
Tergolong ke dalam surah Makiyyah, Surah Al Muddassir turun setelah Surah Muzzammil.
Al Muddassir diambil dari ayat pertamanya yang berarti 'orang yang berkemul'.
Melansir dari kanal YouTube Firanda Andirja, surah Al Muddassir memiliki makna yang sama dengan Surah Al Muzammil.
Dikatakan oleh Ustaz Dr Firanda Andirja, M.A., Surah Al Muddassir memiliki makna orang-orang yang memakai selimut.
"Maknanya sama dengan surah Al Muzammil yaitu orang yang memaki selimut.
Karena ad dissar adalah pakaian yang dipakai setelah as syiar atau yang menempel langsung, ad disar ini lapisan kedua dari pakaian," ungkapnya saat menjelaskan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Surah Al Muddassir dan Surah Al Muzammil memiliki hubungan yakni kandungannya saling berkaitan.
Surah Al Muzammil memiliki kandungan yang isinya seruan Allah SWT kepada Nabi Muhaammad SAW untuk beribadah.
"Beribadah di sini diartikan salat tahajud, karena ini merupakan bekal bagi seorang dai.
Allah SWT menyeru Nabi agar mengcharge imannya dengan tahajud dan bertasbih di sepertiga malam," sambung Ustaz Firanda.
Kemudian Surah Al Muddassir memiliki kandungan yang intinya Allah SWT menyeru kepada Nabi Muhammad SAW untuk ibadah berdakwah yang bernilai dakwah.
"Adapun Surah Al Muddassir memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk ibadah yang bermanfaat, yaitu dengan berdakwah kepada Allah SWT," jelasnya saat mengisi tausiyah di Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin.
Baca juga: Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 46 hingga 50, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Pada Surah Al Muddassir, Allah SWT membuka firmannya dengan mengatakan kepada Nabi tanpa menyebut namanya.
"Allah membuka dengan menyebut bukan nabi tapi orang yang sedang berselimut.
Dalam Bahasa Arab menunjukkan kelembutan, yang dipanggil dengan kelembutan untuk seseorang tersebut," tandas Ustaz Firanda dalam penjelasan kajian tafsirnya.
Secara keseluruhan, Surah Al Muddassir memang menjelaskan tentang seruan Allah SWT agar beribadah.
Ustaz Yahya melalui tayangan YouTube Nurul Hayat Channel menjelaskan peta konsep dari Surah Al Muddassir ini.
"Saya memetakan kandungan dari Surah Al Muddassir ada 6 bagian, dan semoga kita semua bisa mentadaburinya bersama-sama.
Ya minimal kita pelajari 3 hingga 4 pertemuan untuk hasil yang maksimal," ungkapnya saat membuka kajian online tafsir Surah Al Muddassir.
Disebutkannya jika ayat 1 hingga 10, Surah Al Muddassir berbicara tentang wasiat bagi Nabi Muhammad di awal berdakwah.
Kemudian pada ayat 11 hingga 25 berisi tentang ancaman bagi pembesar musyrikin.
Dilanjutkan pada ayat 26 hingga 37, Allah SWT menjelaskan tentang saqar dan penjaga neraka.
Pada ayat 38 hingga 48, terdapat percakapan antara golongan kanan dan mujrimin.
Lalu di ayat 49 hingga 53, Allah SWT mengisahkan orang-orang yang telah berpaling dari Al Quran.
Di bagian akhir pada ayat 54 hingga 56, terdapat nasihat-nasihat yang berkaitan dengan paripurna.
"Saya memetakan kandungan dari Surah Al Muddassir ada 6 bagian, dan semoga kita semua bisa mentadaburinya bersama-sama.
Ya minimal kita pelajari 3 hingga 4 pertemuan untuk hasil yang maksimal," ungkapnya saat membuka kajian online tafsir Surah Al Muddassir.
Untuk mengetahuinya lebih jelas, TribunPalu telah mengutip bacaan dan tafsir Surah Al Muddassir.
TribunPalu telah melansirnya dari laman Quran Kemenag yang diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Baca juga: Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 41 hingga 45, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Bacaan Surah Al Muddassir Ayat 51 hingga 56
فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ - ٥١
51. farrat ming qaswarah
lari dari singa.
بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةًۙ - ٥٢
52. bal yurīdu kullumri`im min-hum ay yu`tā ṣuḥufam munasysyarah
Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka.
كَلَّاۗ بَلْ لَّا يَخَافُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ - ٥٣
53. kallā, bal lā yakhāfụnal-ākhirah
Tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada akhirat.
كَلَّآ اِنَّهٗ تَذْكِرَةٌ ۚ - ٥٤
54. kallā innahụ tażkirah
Tidak! Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu peringatan.
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۗ - ٥٥
55. fa man syā`a żakarah
Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya.
وَمَا يَذْكُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗهُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ ࣖ - ٥٦
56. wa mā yażkurụna illā ay yasyā`allāh, huwa ahlut-taqwā wa ahlul-magfirah
Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al-Qur'an) kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan.
Baca juga: Kapankah Batas Terakhir Puasa Syawal 2022, Simak Bacaan Niat Puasa Syawal
Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 51 hingga 56
Ayat 51
Konsekuensi yang akan dialami di akhirat sudah mereka ketahui, maka ayat ini mengecam para pendurhaka tersebut.
Lalu mengapa mereka orang-orang kafir, berpaling dari peringatan Allah yakni Al-Qur’an dan juga tuntunan yang disampaikan Rasulullah, seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.
Kemudian digambarkan pula sikap orang-orang musyrik dan kafir itu menghindarkan diri dari peringatan agama.
Mereka diibaratkan seperti keledai liar yang lari terkejut menjauh dari singa.
Artinya mereka orang-orang musyrik itu lari dari Muhammad saw atau mereka yang kafir itu lari dari agama Islam, seperti keledai ketakutan lari dikejar singa, atau lari ketakutan karena diburu manusia (pemburu).
Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa orang-orang yang seharusnya telah menerima seruan Islam dan mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan yang diberikan Allah, malah justru menentangnya tanpa sebab-sebab yang logis.
Di sini pula kita perbandingkan bagaimana seekor keledai lari ketakutan tanpa arah.
Demikian pula manusia lari dari agama tanpa alasan yang tepat.
Sifat berusaha menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban agama seperti itu kita lihat sekarang, memang sejak dari dulu telah digambarkan oleh Al-Qur'an.
Ayat 52
Setelah digambarkan sikap lahiriah para pendurhaka yang lari kebingungan bagaikan keledai, kini dilukiskan tentang keadaan batin mereka.
Bahkan yang lebih aneh lagi setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran kitab yang terbuka dari Tuhan.
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan contoh sikap mereka yang keras kepala yang tidak dapat diterima akal sehat atau oleh hati yang berperasaan.
Masing-masing mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran catatan yang terbuka (kitab).
Setiap mereka menginginkan pula diturunkan wahyu seperti yang telah diterima Nabi Muhammad.
Ditambah lagi kitab itu agak istimewa buat mereka, yakni dengan lembaran-lembaran terbuka yang turun dari langit.
Diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa serombongan kaum Quraisy datang kepada Rasulullah dan mengatakan, "Alangkah baiknya kalau setiap pemimpin kami mempunyai kitab dalam lembaran terbuka yang turun dari Allah.
Dalam kitab itu dapat kami baca keterangan yang menyebutkan engkau, hai Muhammad, adalah rasul-Nya.
Lembaran itu pula yang menyuruh kami mengimani engkau dan mengikuti agama engkau."
Dari Qatadah diterima keterangan bahwa maksud ayat di atas ialah mereka menghendaki bebas dari segala dosa-dosa tanpa bekerja dan berbuat kebaikan sedikit pun.
Diriwayatkan pula bahwa Abu Jahal bersama rombongannya yang terdiri dari pemuka-pemuka Quraisy mengatakan kepada Nabi,
"Hai Muhammad, kami tidak akan beriman kepada engkau melainkan bila engkau beri masing-masing kami kitab itu alamatnya masing-masing yang berasal dari Tuhan dan terdapat pula di sana suruhan yang memerintahkan kami mengikuti agama engkau."
Ungkapan demikian juga terdapat dalam salah satu ayat Al-Qur'an: Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca."
Katakanlah (Muhammad), "Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (al-Isra'/17: 93)

Baca juga: Bacaan dan Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 36 hingga 40, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin & Artinya
Ayat 53
Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak!
Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat.
Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan.
Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
Dengan nada cemooh, Allah menolak dengan tegas permintaan itu, sebab sebenarnya mereka tidak takut kepada hari akhirat.
Artinya Allah tidak akan mengabulkan tuntutan mereka.
Allah tidak akan menurunkan kitab dari langit khusus buat mereka.
Allah mengatakan dengan tegas bahwa sesungguhnya yang membuat jiwa mereka kasar, akhlak mereka jahat, penglihatan mereka tertutup, dan pendengaran mereka tersumbat dari kebenaran, adalah karena tidak percaya kepada hari akhirat dengan segala kedahsyatannya.
Andaikata permintaan mereka itu dikabulkan, tentu masih banyak permintaan-permintaan lain menyusul, sekadar menunjukkan iktikad mereka yang tidak baik kepada Islam.
Sebab sudah cukup banyak dalil dan bukti-bukti kebenaran Nabi Muhammad untuk mereka.
Lalu mereka minta kebenaran Nabi Muhammad buat mereka dan meminta lagi tambahan lain yang tidak pantas diminta, permintaan yang tidak berarti sama sekali.
Ayat 54
Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak!
Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat.
Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan.
Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi, "Sekali-kali tidak demikian halnya, sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah peringatan."
Al-Qur'an bukan sebagaimana yang mereka tuduhkan.
Al-Qur'an bukan sihir yang dapat dipelajari, melainkan peringatan langsung dari Allah, sehingga tiada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pertanggungjawaban kepada Allah pada hari kemudian nanti.
Ayat 55
Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak!
Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat.
Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan.
Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
Allah mengatakan bahwa barang siapa menghendaki Al-Qur'an sebagai petunjuk, niscaya dia mendapatkan pelajaran darinya.
Siapa saja yang selalu ingat kepada Al-Qur'an, tidak melupakannya, dan menjadikan sebagai pedoman hidupnya, maka manfaatnya adalah untuk dirinya sendiri.
Dalam Al-Qur'an terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ayat 56
Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak!
Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat.
Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan.
Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa mereka tidak akan mengambil pelajaran dari Al-Qur'an kecuali jika Allah menghendakinya.
Hanya Dia yang berhak memberi ampunan.
Tegasnya tidak ada yang memperoleh peringatan dan pengajaran dari Al-Qur'an melainkan siapa yang dikehendaki Allah.
Tidak seorang pun yang sanggup berbuat demikian kecuali berdasarkan kekuasaan yang diberikan Allah.
Begitulah Allah berbuat sekehendak-Nya tanpa terhalang oleh siapa pun.
Oleh karena itulah kepada Allah saja manusia patut bertakwa, hanya Dia saja yang harus ditakuti dan Dia saja yang harus ditaati.
Dialah memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang beriman.
Dalam sebuah hadis disebutkan: Bahwasanya Rasulullah saw, membaca ayat ini "huwa ahlut-takwa wa ahlul-magfirah" dan bersabda, "Tuhanmu berfirman, 'Sayalah yang paling patut ditakuti, maka janganlah dijadikan bersama-Ku Tuhan yang lain.
Barang siapa yang takwa kepada-Ku dan sekali-kali ia tidak menjadikan bersama-Ku Tuhan yang lain, maka Aku-lah yang berhak untuk mengampuninya." (Riwayat Ahmad, ad-Darimi, at-Tirmizi, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik)
(TribunPalu/Kim)