Breaking News:

Banggai Hari Ini

Cerita Yusran, Berjuang Melestarikan Burung Maleo Secara Mandiri di Toili Banggai

Yusran (baju merah) turut melepasliarkan 15 ekor anak burung Maleo dari penetasan konservasi ex situ DSLNG, di Suka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: Haqir Muhakir
TRIBUNPALU.COM/ASNAWI ZIKRI
Yusran (baju merah) turut melepasliarkan 15 ekor anak burung Maleo dari penetasan konservasi ex situ DSLNG, di Suka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Kamis (9/6/2022). 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI–  Di bawah rerimbunan pohon kemiri di Suaka Margasatwa Bakiriang, Yusran ceritakan upayanya menyelamatkan telur-telur burung Maleo (Macrocephalon Maleo) di Desa Bukit Jaya, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. 

Lelahnya Yusran setelah berjalanan kaki sekitar 3 kilometer hilang setelah melihat beberapa anakan Maleo dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Batui Selatan, Kamis (9/6/2022).

Hari itu, Yusran dan komunitasnya, Jaya Lestari, turut serta dalam pelepasliaran anakan burung Maleo di Suaka Margasatwa Bakiriang yang dilaksanakan oleh PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG).

“Dari kami katanya ada 3 ekor yang ikut dilepas hari ini di Bakiriang,” kata Yusran.

Selama beberapa tahun terakhir komunitas Jaya Lestari memang konsisten ikut melestarikan burung Maleo di Desa Bukit Jaya secara swadaya menggunakan fasilitas sederhana.

Kegiatan itu bermula ketika Yusran mendengar cerita bahwa telur Maleo diperjualbelikan di beberapa warung kelontong warga di Kecamatan Toili. 

Ia pun langsung melakukan pengecekan, dan ternyata informasi itu benar.

“Ketua Lembaga Adat bilang dijual digantung begitu. Awalnya mereka tidak mengaku, tapi kemudian saya tanya katanya telur Maleo dari Bukit Jaya,” katanya.

Setelah itu, Yusran kembali menghadap Ketua Lembaga Adat. 

Lalu ia diminta untuk merangkul beberapa orang untuk ikut melakukan konservasi dan berkoordinasi dengan pemerintah Desa Bukit Jaya.

“Setelah itu dapat legalitas kita. Dapatlah rekomendasi untuk melakukan aktivitas kita pada tahun 2017,” tuturnya.

Pria berusia setengah abad itu dan kawan-kawan komunitas Jaya Lestari pun bergerak menyisir sungai di Desa Bukit Jaya karena informasinya banyak telur Maleo di area itu. 

Upaya itu pun mulai membuahkan hasil. Hingga saat ini sudah 27 ekor anakan burung Maleo yang dilepasliarkan dari hasil konservasi secara mandiri itu. 

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved