Palu Hari Ini

Seminar Moderasi Beragama di Palu Hadirkan Mahasiswa Lintas Agama

Moderasi Beragama dapat dikatakan sebagai cara beragama yang moderat untuk menghindari keekstreman dalam praktik beragama.

Penulis: Citizen Reporter | Editor: mahyuddin
Handover
Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, mengenalkan Moderasi Beragama kepada mahasiswa non-Muslim lintasperguruan tinggi. Seminar yang menghadirkan tiga narasumber itu berlangsung di UIN Datokarama, Jl Diponegoro, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, mengenalkan Moderasi Beragama kepada mahasiswa non-Muslim lintasperguruan tinggi.

Materi Moderasi Beragama dikenalkan UIN Datokarama lewat Seminar bertajuk Konsep dan Implementasi Moderasi Beragama Dalam Mewujudkan Tatanan Masyarakat yang Harmonis di Bawah Bingkai Bhinneka Tunggal Ika".

Seminar yang menghadirkan tiga narasumber itu berlangsung di UIN Datokarama, Jl Diponegoro, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Ketiganya Prof Dr Lukman S Tahir (Guru Besar UIN Datokarama Palu), Dr Fahrudin D Yambas (Kaban Kesbangpol Sulawesi Tengah) dan Pedeta Zakarias Wahyu Widodo.

Melalui seminar itu, UIN Datokarama menghadirkan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Sentana Sulteng, Perhimpunan Katolik Republik Indonesia Cabang Palu dan Sekolah Tinggi Teologi Marturia Palu, masing-masing 20 orang.

"Targetnya adalah mahasiswa menjadi satu komponen yang berperan dalam menyebarluaskan Moderasi Beragama kepada masyarakat dalam kehidupan sosial keagamaan," ucap Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Datokarama Palu Prof Abidin Djafar melalui rilis tertulisnya kepada TribunPalu.com, Selasa (26/7/2022).

Baca juga: Dema FTIK UIN Datokarama Gelar Nosintomu Mahasiswa Tarbiyah se Indonesia Timur

Dia menyebut, Moderasi Beragama dapat dikatakan sebagai cara beragama yang moderat untuk menghindari keekstreman dalam praktik beragama.

"Moderasi Beragama bukanlah moderasi agama. Sebab, Boderasi Beragama berada pada tataran sosiologis yang dalam wilayah praktik keberagamaan di kehidupan sosial kemasyarakatan dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain," katanya.

Sementara pada tataran teologis, kata dia, setiap orang berhak dan bahkan seharusnya meyakini kebenaran agamanya.

Tetapi pada saat yang sama dalam tataran sosiologis, orang itu juga harus memahami bahwa orang lain juga memiliki keyakinan terhadap ajaran agama mereka.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved