Banggai Hari Ini

Bupati Banggai Kesal dengan Dampak Lingkungan dari Perusahaan Nikel PT KFM

Bupati Banggai Amirudin Tamoreka kesal melihat langsung dampak lingkungan yang merusak jalan akibat aktivitas perusahaan nikel PT Koninis Fajar Minera

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Bupati Banggai Amirudin Tamoreka melihat langsung kondisi jalan tertimbun lumpur dan batu yang diduga akibat aktivitas perusahaan nikel PT KFM, di Desa Tuntung, Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (26/7/2022) sore. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Bupati Banggai Amirudin Tamoreka kesal melihat langsung dampak lingkungan yang merusak jalan akibat aktivitas perusahaan nikel PT Koninis Fajar Mineral (KFM) di Desa Tuntung, Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (26/7/2022) sore.

Saat itu, Bupati Amirudin dikabarkan hendak melakukan kunjungan kerja di wilayah Kecamatan Bunta, Simpang Raya dan Nuhon.

Namun kendaraannya terpaksa berhenti karena kondisi jalan Trans Sulawesi di Desa Tuntung tertutup material lumpur dan batu.

"Kalian (PT KFM) menjelaskan bahwa tidak ada dampak yang ditimbulkan dalam kegiatan kalian di sini. Ini contohnya sudah hancur jalan kita. Mana itu kemarin yang menjelaskan di kantor," demikian ungkapan kekesalan Bupati Amirudin kepada sejumlah warga yang diduga sebagai pekerja PT KFM melalui rekaman video yang diterima media ini.

Baca juga: Wacana Penambahan Dapil pada Pemilu 2024, Begini Respon DPRD Banggai

Dalam rekaman berdurasi 1 menit 23 detik itu, Bupati Amirudin yang kepalanya tertutup jaket sweater hitam tampak geram dengan kondisi kerusakan jalan nasional tersebut.

Kabarnya, kondisi jalan tertutup lumpur dan bebatuan itu kerap terjadi di kala hujan.

Material dari aktivitas pertambangan nikel PT KFM akan terbawa air hujan hingga menutup badan jalan.

Kondisi ini berpotensi mengancam keselamatan pengendara yang melintas di jalan itu karena bisa saja terseret kiriman banjir disertai material bebatuan yang datang tiba-tiba saat hujan lebat.

Jalan Trans Sulawesi sepanjang sekitar 50 meter ini memang digunakan PT KFM untuk lintasan kendaraan truk berukuran besar yang mengangkut material ore nikel.

Hasil produksi ore nikel yang dikeruk dari pegunungan Kecamatan Bunta dan sekitarnya itu dibawa ke pelabuhan jety. 

Baca juga: Jelang HDKD Ke-77, Kantor Imigrasi Banggai Gelar Aksi Sosial Donor Darah

Sehingga satu-satunya akses jalan yang harus dilintas adalah jalan Trans Sulawesi di Desa Tuntung.

Kabarnya, hasil produksi ore nikel yang diduga berdampak pada lingkungan sekitar itu akan dibawa ke PT IMIP di Kabupaten Morowali untuk diproduksi selanjutnya.

Selain itu, video lain yang diterima media ini menunjukkan perkebunan kelapa milik warga yang terendam banjir dan lumpur.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved