Banggai Hari Ini

Bupati Banggai Mediasi Masalah Petani Sawit di Batui, Berikut 8 Poin Kesepakatan

Bupati Banggai Amirudin Tamoreka memediasi masalah petani sawit dengan PT Sawindo Cemerlang. Dalam rapat itu dilahirkan 8 poin kesepakatan.

Penulis: Asnawi Zikri | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Bupati Banggai Amirudin Tamoreka memediasi masalah petani sawit dengan PT Sawindo Cemerlang. Dalam rapat itu dilahirkan 8 poin kesepakatan. 

Keempat, diminta kepada pihak perusahaan agar membicarakan dengan pengurus Koperasi Sawit Maleo Sejahtera (SMS), dan petani plasma (anggota koperasi) sistem tangung renteng pengelolaan sawit, berdasarkan kelompok atau blok dan tidak lagi menggunakan tanggung renteng berdasarkan luasan areal plasma, termasuk pembicaraan SPK/SPHu dan hasilnya disampaikan kepada Tim Pokja. 

Dinas koperasi dan UMKM Kabupaten Banggai agar melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap Koperasi SMS dalam penyelesaian permasalahan dengan anggota. 

Kelima, pihak Koperasi SMS tidak keberatan jika sistem pengelolaan sawit dilakukan sistem tanggung renteng berdasarkan kelompok atau blok. 

Keenam, hutang petani sebesar kurang lebih Rp 63 juta akan ditinjau kembali dan dikolerasikan dengan kajian study kelayakan pendirian pembangunan sawit (Plasma). 

Ketujuh, setelah dilakukan verifikasi administrasi terhadap alas hak yang bersertifikat akan dilakukan validasi lapangan. 

Kedelapan, Pemerintah Daerah tidak akan melakukan intervensi hukum terhadap proses hukum, akan tetapi akan memberikan pendampingan hukum terhadap petani plasma. 

Sekadar diketahui, perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah Kecamatan Batui dan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah sejak awal punya niat baik untuk menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dan mufakat. 

Melalui kesepakatan ini, Manajemen PT Sawindo Cemerlang berharap agar petani atau pemilik lahan dapat duduk bersama agar masalah ini diselesaikan dengan baik.

Baca juga: Lani Pelia Terus Kembangkan Ubi Banggai, Rencana Bentuk Kelompok dan Perluas Lahan Tanam

Sementara itu, Ketua Koperasi SMS, Mukhtar menyatakan rapat ini seharusnya dihadiri oleh pihak yang berkepentingan yang didominasi oleh pemilik sah alas hak. 

"Sebetulnya masalah ini cukup dibahas di internal kami saja," kata Mukhtar.

Ia juga mengungkapkan, perbuatan sejumlah oknum yang masih saja mengambil tandan buah segar atau TBS di lahan Koperasi SMS, maka akan ditempuh jalur hukum.

Karena atas pencurian TBS, kata Mukhtar, telah berdampak pada kerugian Koperasi SMS sekitar Rp 900 juta.

"Seharusnya kerugian itu menjadi pendapatan ratusan anggota petani sawit di bawah naungan koperasi SMS," kata Mukhtar. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved