Tak Ada Adegan Pelecehan saat Rekonstruksi, JPU Dinilai akan Gamang Terapkan Pasal 340: Spontanitas!

Kini setelah rekonstruksi selesai digelar, perhatian masyarakat akan tertuju pada proses persidangan Ferdy Sambo dkk.

Editor: Muh Ruliansyah
Handover
Polisi telah menetapkan lima tersangka dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Lima tersangka itu adalah Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E, Brigadir RR, dan Kuat Maruf. 

TRIBUNPALU.COM - Kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J masih terus bergulir.

Terbaru, rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J dilakukan pada Selasa (30/8/2022).

Dalam rekonstruksi tersebut, penyidik Bareskrim Polri menghadirkan lima tersangka.

Kini setelah rekonstruksi selesai digelar, perhatian masyarakat akan tertuju pada proses persidangan Ferdy Sambo dkk.

Pakar Hukum Pidana Universitas Al-Azhar Suparji Ahmad menilai, Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan gamang menuntut Pasal 340 KUHP terhadap sejumlah tersangka pembunuhan berencana Brigadir Pol Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Baca juga: KEMARAHAN Kuat Maruf Usai Dengar Teriakan Putri di Kamar, Sampai Bawa Pisau Ancam Brigadir J

Meskipun unsur pembunuhan berencana terhadap Brigadir J sudah terpenuhi. Demikian Pakar Hukum Pidana Universitas Al-Azhar Suparji Ahmad dalam keterangannya di Sapa Indonesia Malam KOMPAS TV, Selasa (30/8/2022).

“Jaksa saya kira masih gamang, ketika bermaksud menuntut dengan pembunuhan berencana ya, meskipun saja unsur pembunuhan berencana sudah terpenuhi,” ucap Suparji Ahmad.

“Karena ada yang menyuruh, kemudian ada yang melakukan, turut serta, ada yang merencanakan ya, terus kemudian ada turut membantu ya ini bisa saja dianggap sebagai sebuah pembunuhan berencana,” kata Suparji Ahmad.

Namun, kata Suparji, jika mencermati dari rekonstruksi yang dilakukan bisa saja pengacara tersangka menyanggah ini sebagai pembunuhan berencana. “Kan bisa saja pengacara tersangka membantah, ini adalah sebuah spontanitas, ini adalah sebuah reaksi, bahwa ini adalah sebuah emosi, jadi tidak mudah memenuhi unsur 340 itu,” kata Suparji Ahmad.

Sebab, dalam rekonstruksi yang digelar dan menggambarkan tiga situasi yakni di Magelang, Jl Saguling, dan rumah dinas di Kompleks Duren Tiga tidak ada yang memperagakan adanya pelecehan seksual dan perencanaan pembunuhan.

“Yang terjadi, kita saksikan bersama itu tidak sesuai dengan fakta yang logis dan tidak sesuai dengan fakta yang rasional. Karena tadi itu, katanya pelecehan seksual tapi tidak ada adegan-adegan apapun di situ,” kata Suparji Ahmad.

“Katanya pembunuhan berencana tapi tidak kelihatan bagaimana merencanakan, bagaimana memberikan senjatanya, bagaimana menggunakannya padahal kan ini yang ditunggu oleh jaksa bagaimana anatomi perkara ini menjadi jelas dan lengkap.”

Dalam amatan Suparji, dari rekonstruksi justru memunculkan narasi baru yang nantinya akan menjadi perbincangan di publik. Lantaran, katanya, rekonstruksi yang ditampilkan dalam kasus pembunuhan Brigadir tidak logis dan tidak rasional.

“Yang terjadi kita saksikan bersama itu tidak sesuai dengan fakta yang logis dan tidak sesuai dengan fakta yang rasional,” ujar Suparji Ahmad.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved